Talkshow Bersama Kang Abik dan Jazimah Al-Muhyi

Kang Abik dan Jazimah Al-Muhyi in action

Kang Abik dan Jazimah Al-Muhyi in action

Alhamdulillah, tak ada halangan berarti. Semoga semua yang hadir bisa mengambil kemanfaatn dari kehadiran dua orang narasumber luar biasa itu, Kang Abik dan Mbak Jazimah.

Thx untuk Tia, kakaknya Biru yang menyempatkan diri cabut dari Qaryah Thayyibah Salatiga untuk barang sebentar sekedar njepret adiknya yang tampil di talent show dan mengabadikan juga foto di atas. Arigato Gozaimas….

Iklan
By sekolahalamarridho Posted in Moment

Proposal Bookweek

Cover Proposal Bookweek

Cover Proposal Bookweek


Download Proposal Bookweek (pdf, ukuran : 5Mb)

Note : Untuk para guru, bapak-ibu orang tua murid, ataupun para pemerhati pendidikan dan anak-anak, yang ingin dan memiliki kesediaan waktu untuk mendukung dan membantu acara ini, silahkan mendownload proposalnya. Trims kami ucapkan atas segala perhatiandanjerih payahnya. Semoga Allah memudahkan.

Pamflet Bookweek

(Editing pada Selasa, 24/02/2009, pamflet sudah bisa membesar jika diklik, sebelumnya tidak, maaf…)

Pamflet Bookweek

Pamflet Bookweek

(Note : ada sedikit revisi.
Perkembangan terakhir, HTM-nya baik Umum/Mahasiswa sama yaitu Rp 25.000,- dengan fasilitas : Snack.
Demikian, info dari Ketua panitia)

Agenda : Camping dan Bookweek

Februari 2009

Acara : Camping
Hari/Tgl : Kamis-Jumat/5-6 Februari 2009
Tempat : Kawasan Agro Tuntang, Salatiga
Peserta : Kelas 4,5,7,8 (Untuk kelas 3,6,9 sifatnya tak wajib)
Ketua Panitia : Pak Solihin.

Maret 2009
Acara : BookWeek
Hari/Tgl : 2-8 Maret 2009
Tempat : Sekolah Alam Ar-Ridho
Peserta : umum
Ketua Panitia : Miss Winda
Model : bookfair, talent show, lomba-lomba, talkshow kepenulisan, market day, pameran karya.
download bahan : pra-proposal

Mohon masukan, doa, dukungan, partisipasinya untuk kesuksesannya. Terima Kasih

Ketika Ia Menangis dalam Kesendirian

Alone

Alone

Jumat lagi. Mendung lagi. Dan catatan harian ini tertulis lagi, dalam rasa hitam kopi tanpa gula, pahit.

14.30
Jelang ashar di sekolah, meski sore belum jatuh benar tapi gelapnya sudah seperti jam 5. Dan aku melihatnya. Sendirian, menekuk lututnya, sambil mengais-ngais kerikil. Matanya ‘mbrambang’, merah. Gila! Mata kecil itu, seperti sumur yang amat dalam. Menyimpan sesuatu. Full of pain. Sudah pasti, ia sedang terluka.

“Kenapa?” tanyaku. Tapi seperti yang kuduga. Dia cuma menggeleng, tanpa melihat siapa yang menyapa. Ia asyik mengusik kerikilnya, atau mungkin berusaha menyembunyikan mata merahnya.

Aku berlalu, sambil mengusap-usap kepalanya. Aku sedang terburu-buru. Masih ada waktu 30 menit sebelum adzan ashar. Sore ini aku harus mendownload sesuatu dari email, karena nanti malam aku harus menyetorkannya. Pekerjaan yang telah jatuh tempo. Karena sekolah sedang offline, maka warnet menjadi tujuan.

**

15.00
Adzan berkumandang. Bergegas kembali ke sekolah.
Dan, Ya Allah… anak itu masih ditempatnya. Setengah jam ini berarti ia tak juga beranjak dari tempatnya. Kepalanya rebah seakan lehernya tak punya daya untuk menyangga. Dagunya ia tumpukan diatas tangannya. Bahunya berguncang-guncang. Air mata menetesi pipinya. Bajunya, merah lusuh, dan basah. Anak ini sudah menangis dari tadi. Tapi tanpa suara. Cuma itu, dengan bahu yang terguncang-guncang dan mata yang tergenang bersama tatapan sayu. Sedetik, aku turut berdesir. Mendung sore ini, ditambah angin dingin dan suasana yang menggelap, membuatku begitu bisa merasakan Ardi yang menangis sendiri.

“Ardi, kamu kenapa?” tanyaku. Ia malah menenggelamkan kepalanya.
“Ardi, kamu ingin pulang ya?” tanyaku menduga-duga. Kulihat sekeliling. Sudah tak ada lagi anak sebayanya di lapangan belakang ini. Ini hari Jumat. Bearti kelas kecil pulang jam 11 siang . Itu berarti ia sudah menunggu di sekolah sekitar 4 jam. Ardi lalu mengangguk pelan.

“O… kamu pasti dari tadi menunggu bapak, kan? Itu mah gampang. Ayo, sini kita telpon bapak. Tuh, dikantor ada telpon. Nggak usah takut” kataku berusaha menenangkan. Ia masih diam tapi bahunya sudah lebih tenang. Kupapah lengan kecil itu menuju kantor.

“Ardi, tahu nomor telpon bapak?” tanyaku. Ia kemudian menyebut sejumlah angka. Lalu, tersambung, dan aha… suara di seberang sana mengatakan sedang dalam perjalanan. Sekilat cahaya merubah mata ardi menjadi lebih hangat.

“Sudah, ayo dihapus air matamu dengan air wudhu. Malu nanti sama bapak kalo tahu Ardi si jagoan nangis karena bapak telat menjemput. Bapak tadi bilang, jemputnya kamu nanti di masjid. Ayo kita ke tungu di masjid aja” Ardi bergegas menyeka matanyanya, plus ingusnya yang ikut-ikutan keluar juga. Hihi, tapi sembabnya tetap saja tak bisa hilang.

Kubantu membawa tasnya, dan kurengkuh bahunya, seperti memapahnya.
“Ardi kenapa pak?” tanya seorang muriku yang SMP melihat pemandangan itu. Beberapa temannya juga menoleh ke arahku. Hemmm… sebenarnya jarak dari Ardi menangis sama lokasi tempat anak-anak SMP ini beraktivitas, tidaklah jauh, cuma 10 meteran saja. Mereka pasti melihat Ardi yang sendirian di pojok tadi. Tapi mungin karena sedang sibuk, atau apalah, yang jelas murid-murid besarku ini tak berbuat apapun kepada adik kelas kecil nan ringkih ini.
Sampai di halaman depan, 3-4 anak laki-laki, mungkin teman sekelasnya Ardi, berteriak “Ardi, Fahril minta maaf ya…” Ada juga yang bertanya, “Ardi kenapa pak?”

Ardi terus berjalan, tak menjawab sepatah katapun, dan juga menoleh. Ow, ini toh sebabnya, dobel berarti penderitaan si Ardi. Terlukai perasaanya karena ulah teman dan bapak yang tak kunjung datang. Dia pasti merasa begitu tersisih. Teman-temannya bermain di lapangan depan, dianya terusir ke lapangan belakang, sendirian.

**

Pernah kudengar cerita sebelumnyanya, bahwa Ardi seringkali selalu dalam posisi terkalahkan dan tersisih, terdholimi begitulah. Perawakannya yang kecil, rambut yang takpernah rapi, baju yang pasti kotor, ingus disana-sini membuatnya berada di posisi marginal diantara teman-temanya. Fenomena Ardi, bagiku adalah sebuah gunung es. Jika ia ada di sekolah model SA ini, berarti akan lebih banyak lagi jumlahnya di sekolah regular.

Dalam kehidupan tingkat lanjut, di Amerika misalnya, anak-anak ini kemudian tumbuh menjadi figur yang hatinya penuh luka. Mereka kemudian menyelesaikan dengan cara yang khas : Shoot them all! Menembak teman sekolahnya sendiri.

Benar kata Kak Seto, lembaga bernama sekolah mesti segera mengintrospeksi diri. Bahwa kekerasan telah nyata-nyata ada dan menjadi bahaya laten di sekolah. Baik kekerasan fisik maupun kekerasan psikis yang jumlahnya jauh lebih banyak dan tak terpblikasi.

**

By the way, aku tiba-tiba teringat adik laki-laki kandungku sendiri yang masih 10 tahun nun jauh di Sumatera sana, yang saat ini sedang tergolek sakit. Liper kata ayahanda. Terpisahnya jarak, membuatku tak mungkin bisa berbuat apa-apa jika saja ia berada dalam posisi seperti Ardi. Adikku yang lain pernah bercerita adik laki-lakiku itu sering berkelahi dengan temannya. Padahal aku tahu persis, badannya cungkring dan kecil. Ia pasti membela sesuatu. Entahlah…

Juga teringat pada baginda Rasulullah SAW, yang selalu tak tahan melihat anak kecil menangis, terlebih dalamkesendiriannya. Beliau tak segan mengangkat seorang anak menjadi anaknya, demi mengetahui si anak adalah anak yatim, terlebih yatimnya karena ayahnya syahid ketika berjihad bersama Rasulullah. Begitu juga para sahabat di sekitar Rasulullah.

Jumat sore ini, ditutup dengan doa,
“Rabbana hablana min azwajina, wa dzurriyatina qurrotu ayun, wa ja’alna lil muttaqina immama. Jadikanlah anak-anak kami sebagai penenang hati dan kelak menjadi pemimpin dikalangan orang-orang bertakwa”. Amin…

(note: phot courtesy from http://www.bracknell-forest.gov.uk, its for the firstime, we don’t use our photo doc.)

By sekolahalamarridho Posted in Problema

Sepenggal Sore di Sekolah Alam

Hujan turun putus-putus sore ini (16/1). Kadang menderas, mereda, lalu gerimis lagi, lalu deras lagi. Di Semarang bawah, kondisinya malah hujan sepanjang hari. Sebagian penduduk diberitakan sudah mengungsi ke Rusunawa. Dibelahan lain, jauh di Palestina sana, juga tengah turun hujan, hujan yang lebih dahsyat, hujan peluru dan mesiu.

Pun demikian, selalu ada rahmah dibalik semua itu. Sehingga tak ada jalan lain selain mensyukuri karunia Allah ini, bahkan jika ia harus berwujud musibah atau ujian kehidupan.

Ba’da ashar Jumat ini, sekolah masih ramai. Beberapa mahasiswa danibu-ibu menggelar majelis ta’lim di salah satu ruangan. Di Greenhouse, seperti biasa, Pak Arifin bersama anak-anak Kandang Be-Te (Bengkel Teater SMP) sedang bergelut dengan lumpur merampungkan proyek besar mereka. Setiap hari saban sore mereka menyediakan waktu dan tenaga, tanpa keluh kesah, merawat Greenhouse. Secoret tulisan di whiteboard usang menyemangati mereka. Tulisannya : “You will never walk alone”

Anak-anak Kandang Be-Te (Bengkel Teater)

Anak-anak Kandang Be-Te (Bengkel Teater)


Di Ujung taman, segelintir anak-anak SMP anggota Klub Foto sedang mengerubuti tanaman. Mereka sedang berburu embun dan tetes-tetes hujan yang terperangkap di daun. Mereka sedang mengasah kemampuan fotografinya meski hanya dengan kamera digital saku.
Uyun (Klub Foto Kelas VIII) in Action

Uyun (Klub Foto Kelas VIII) in Action


Yuni (Klub Foto Kelas VIII) membidik foto Macro

Yuni (Klub Foto Kelas VIII) membidik foto Macro


Rara (kelas VIII) juga tak ingin ketinggalan

Rara (kelas VIII) juga tak ingin ketinggalan


Deni (kelas VII) tak kurang akal, kamera  ditutupi plastik biar tak kena air hujan..

Deni (kelas VII) tak kurang akal, kamera ditutupi plastik biar tak kena air hujan..


Semuanya berusaha untuk memberikan yang terbaik. Mungkin nanti pada bulan Maret 2009, saat Open House sekolah digelar, anak-anak ini juga anak-anak lain bisa memamerkan karya mereka kepada khalayak. Bahwa di sekolah ini mereka berproses…dan mengalami. Sebuah tahapan penting dalam belajar. Bahwa sukses di masa depan, sebagian ditentukan pada kenangan manis di masa kini.

Ustad Nurul kemudian datang. Habis dari Gramedia beliau langsung meluncur ke sekolah. Sebuah buku bagus dibawanya, judulnya Kecerdasan Emosi-nya Daniel Goleman. Buku yang kini sudah masuk cetakan ke-17 sejak terbit pertama tahun 1996. Menjadi menarik, karena menurut buku itu kecerdasan emosi ternyata jauh lebih penting dari pada kecerdasan intelektual.

Hari sudah gelap ketika kami menghabiskan pisang rebus Bu Jan yang sudah dingin. Sayup-sayup azan magrib berlomba ketika kami kemudian melangkah pulang, meninggalkan ustad yang masih berdiam di saung sendirian…

Dari Admin : Maafkan…

Saya ingin menghaturkan maaf, utamanya kepada blog ini. Sebagaimana ayah yang minta maaf kepada anaknya karena berbuat salah. Jika blog ini sengaja dilahirkan, berarti ia adalah bagian dari yang disebut dengan darah daging. Atas predikat darah daging itu, ia berhak atas nafkah dari ayahnya. Nafkah yang berupa update postingan, pembalasan komentar, hopeblogging, dan seterusnya. Jika blog ini bisa bicara, mungkin ia akan protes, karena lama sudah ia tak dijamah.

Tapi saya ingin mengatakan pada blog ini, bahwa sifat kekhususan yang melekat padanya, membutuhkan paling tidak 3 hal agar ia bisa terus ditulisi. Mereka adalah : mata, akal, dan hati (to see, to think, and to feel). Satu saja unsur tak terpenuhi, maka sulit untuk bisa menciptakan tulisan baru.

Kedepan, mungkin tak banyak foto yang bisa dilampirkan dalam postingan,karena kemampuan mata visual (dan kamera) sudah jauh berkurang. Mungkin banyak moment dan peristiwa bagus, tapi tak sempat tersaksikan atau terabadikan. Atau jika terabadikan, tidak tahu dimana filenya disimpan. Dan seterusnya, termasuk tentang ‘hang’-nya kemampuan akal (pikiran) serta hati (merasa) . Sehingga, Maaf yang kedua adalah jika kedepan ada perubahan karakteristik blog ini… sebuah perubahan rasa…

Setitik suara menyarankan blog ini ‘dimakamkan’ saja. Tapi, jika melihat wajah polos anak-anak dan mengingat wajah pendidikan Indonesia, maka tidak ada pilihan lain selain memberikan padanya pernafasan buatan agar ia tetap hidup. Meski bagi sebagian orang, dicap tak memberikan banyak kemanfaatan, tapi saya berkeyakinan apa yang dipersembahan blog ini adalah sebuah pencerahan. Jadi, meski sedikit, meski setitik, setidaknya ada jawaban ketika di akhirat ada lontaran pertanyaan,”Ngapain saja kamu selama di dunia?”

Seperti tadi sore, saat seorang ibu, jauh-jauh datang menyempatkan diri, untuk melihat sekolah setelah mengakses blog ini. Dan berkeinginan menyekolahkan anaknua di sini. Kemudian, kami justru terlibat pada diskusi tentang anak, pendidikan, keluarga dan masa depan. Setitik semangat menyala. Jika sang ibu mendapatkan inspirasi dan pencerahan setelah membaca banyak postingan didalamnya, kebahagiaan yang dirasakan saya (dan juga para penulis blog didalamnya) mungkin seperti senyum puas pak polantas yang bersimbah peluh namun berhasil mengatasi kemacetan dipersimpangan jalan.

Jadi,, kepada blog ini, bersabarlah… Engkau, sebagaimana karya tulis adalah sebuah keabadian…
Cerita pahit-manis telah banyak kita lalui bersama selama kurun waktu ini, dan terlalu berharga untuk tak di tetap hidupkan. Engkau menjadi saksi, ketika untuk menjagamu tetap hidup, hingga harus basah kuyup kehujanan, pulang tengah malam, jalan kaki menyusuri sigar bencah karena kemalaman atau kehabisan ongkos, dan seterusnya….

Maka, menulislah…
anak-anak dinegeri ini menunggumu,
mereka merindui menikmati pendidikan yang bersahabat dengan mereka,
dan dari sini kita bisa memulai pencerahan
khususnya kepada guru, orang tua, dan siapa saja yang peduli kepada pendidikan.

Dicari : Pembasmi Massal Lalat Organik

Saat ini, SAA sedang mencari pembasmi lalat organik (non kimiawi/pestisida/insektisida) yang efektif dan ramah lingkungan.
Sebab, akhir-akhir ini, sekolah dan sekitarnya sedang ‘panen’ wabah lalat. Jumlahnya sudah diatas kewajaran.

Buat temen-temen yang mengetahui soal pembasmian lalat, bolehlah berbagi ide dan pengetahuan kepada kita. Ditunggu….