Berita Duka

Innalillahi wa innailaihi roji’un…
Telah dipanggil ke rahmatullah…,
Rais Fardin Rehma Fikri, putra dari Bu Ngatmini dan Pak Yaumus Sururi, yang lahir pada Selasa (5/5/09) dan wafat pada Kamis (7/5/09). Jenazahnya telah dikebumikan pada hari ini, Kamis (7/5/09) bada duhur di pemakaman Rejosari-Meteseh.

Semoga ayah dan bunda juga segenap kerabat di anugerahi kesabaran dan kekuatan. Semoga kita semua juga bisa mengambil hikmah dan pelajaran dari ketetapan Allah ini.

Semangat dan Bangkit, Bu Mini…!
The Life Must Go On…!

Iklan

Selamat Datang Keluarga Baru

Keluarga besar Sekolah Alam Ar-Ridho mengucapkan Barokallahu atas kelahiran putra-putrinya dari bapak/ibu guru :

1. Pak Sumari dan Bu Musyarofah (putra kedua)
2. Bu Ngatmini dan Pak Masruri (Putra pertama)
3. Bu Silviani Hanum (putra pertama)

semoga putra/putrinya kelak menjadi jundi-jundi Allah, menjadi anak yang soleh dan dibanggakan oleh keluarganya, lingkungannya, negeranya, dan agamanya. Amin…

(note : untuk bu mini dan mus, semoga cepat pulih, setelah proses Caesar ya…mohon doanya kerabat sekalian wa bil khusus untuk putranya bu mini, yang saat posting ini ditulis masih dirawat di ICU RS. Hermina)

Sepenggal Sore di Sekolah Alam

Hujan turun putus-putus sore ini (16/1). Kadang menderas, mereda, lalu gerimis lagi, lalu deras lagi. Di Semarang bawah, kondisinya malah hujan sepanjang hari. Sebagian penduduk diberitakan sudah mengungsi ke Rusunawa. Dibelahan lain, jauh di Palestina sana, juga tengah turun hujan, hujan yang lebih dahsyat, hujan peluru dan mesiu.

Pun demikian, selalu ada rahmah dibalik semua itu. Sehingga tak ada jalan lain selain mensyukuri karunia Allah ini, bahkan jika ia harus berwujud musibah atau ujian kehidupan.

Ba’da ashar Jumat ini, sekolah masih ramai. Beberapa mahasiswa danibu-ibu menggelar majelis ta’lim di salah satu ruangan. Di Greenhouse, seperti biasa, Pak Arifin bersama anak-anak Kandang Be-Te (Bengkel Teater SMP) sedang bergelut dengan lumpur merampungkan proyek besar mereka. Setiap hari saban sore mereka menyediakan waktu dan tenaga, tanpa keluh kesah, merawat Greenhouse. Secoret tulisan di whiteboard usang menyemangati mereka. Tulisannya : “You will never walk alone”

Anak-anak Kandang Be-Te (Bengkel Teater)

Anak-anak Kandang Be-Te (Bengkel Teater)


Di Ujung taman, segelintir anak-anak SMP anggota Klub Foto sedang mengerubuti tanaman. Mereka sedang berburu embun dan tetes-tetes hujan yang terperangkap di daun. Mereka sedang mengasah kemampuan fotografinya meski hanya dengan kamera digital saku.
Uyun (Klub Foto Kelas VIII) in Action

Uyun (Klub Foto Kelas VIII) in Action


Yuni (Klub Foto Kelas VIII) membidik foto Macro

Yuni (Klub Foto Kelas VIII) membidik foto Macro


Rara (kelas VIII) juga tak ingin ketinggalan

Rara (kelas VIII) juga tak ingin ketinggalan


Deni (kelas VII) tak kurang akal, kamera  ditutupi plastik biar tak kena air hujan..

Deni (kelas VII) tak kurang akal, kamera ditutupi plastik biar tak kena air hujan..


Semuanya berusaha untuk memberikan yang terbaik. Mungkin nanti pada bulan Maret 2009, saat Open House sekolah digelar, anak-anak ini juga anak-anak lain bisa memamerkan karya mereka kepada khalayak. Bahwa di sekolah ini mereka berproses…dan mengalami. Sebuah tahapan penting dalam belajar. Bahwa sukses di masa depan, sebagian ditentukan pada kenangan manis di masa kini.

Ustad Nurul kemudian datang. Habis dari Gramedia beliau langsung meluncur ke sekolah. Sebuah buku bagus dibawanya, judulnya Kecerdasan Emosi-nya Daniel Goleman. Buku yang kini sudah masuk cetakan ke-17 sejak terbit pertama tahun 1996. Menjadi menarik, karena menurut buku itu kecerdasan emosi ternyata jauh lebih penting dari pada kecerdasan intelektual.

Hari sudah gelap ketika kami menghabiskan pisang rebus Bu Jan yang sudah dingin. Sayup-sayup azan magrib berlomba ketika kami kemudian melangkah pulang, meninggalkan ustad yang masih berdiam di saung sendirian…

Dari Admin : Maafkan…

Saya ingin menghaturkan maaf, utamanya kepada blog ini. Sebagaimana ayah yang minta maaf kepada anaknya karena berbuat salah. Jika blog ini sengaja dilahirkan, berarti ia adalah bagian dari yang disebut dengan darah daging. Atas predikat darah daging itu, ia berhak atas nafkah dari ayahnya. Nafkah yang berupa update postingan, pembalasan komentar, hopeblogging, dan seterusnya. Jika blog ini bisa bicara, mungkin ia akan protes, karena lama sudah ia tak dijamah.

Tapi saya ingin mengatakan pada blog ini, bahwa sifat kekhususan yang melekat padanya, membutuhkan paling tidak 3 hal agar ia bisa terus ditulisi. Mereka adalah : mata, akal, dan hati (to see, to think, and to feel). Satu saja unsur tak terpenuhi, maka sulit untuk bisa menciptakan tulisan baru.

Kedepan, mungkin tak banyak foto yang bisa dilampirkan dalam postingan,karena kemampuan mata visual (dan kamera) sudah jauh berkurang. Mungkin banyak moment dan peristiwa bagus, tapi tak sempat tersaksikan atau terabadikan. Atau jika terabadikan, tidak tahu dimana filenya disimpan. Dan seterusnya, termasuk tentang ‘hang’-nya kemampuan akal (pikiran) serta hati (merasa) . Sehingga, Maaf yang kedua adalah jika kedepan ada perubahan karakteristik blog ini… sebuah perubahan rasa…

Setitik suara menyarankan blog ini ‘dimakamkan’ saja. Tapi, jika melihat wajah polos anak-anak dan mengingat wajah pendidikan Indonesia, maka tidak ada pilihan lain selain memberikan padanya pernafasan buatan agar ia tetap hidup. Meski bagi sebagian orang, dicap tak memberikan banyak kemanfaatan, tapi saya berkeyakinan apa yang dipersembahan blog ini adalah sebuah pencerahan. Jadi, meski sedikit, meski setitik, setidaknya ada jawaban ketika di akhirat ada lontaran pertanyaan,”Ngapain saja kamu selama di dunia?”

Seperti tadi sore, saat seorang ibu, jauh-jauh datang menyempatkan diri, untuk melihat sekolah setelah mengakses blog ini. Dan berkeinginan menyekolahkan anaknua di sini. Kemudian, kami justru terlibat pada diskusi tentang anak, pendidikan, keluarga dan masa depan. Setitik semangat menyala. Jika sang ibu mendapatkan inspirasi dan pencerahan setelah membaca banyak postingan didalamnya, kebahagiaan yang dirasakan saya (dan juga para penulis blog didalamnya) mungkin seperti senyum puas pak polantas yang bersimbah peluh namun berhasil mengatasi kemacetan dipersimpangan jalan.

Jadi,, kepada blog ini, bersabarlah… Engkau, sebagaimana karya tulis adalah sebuah keabadian…
Cerita pahit-manis telah banyak kita lalui bersama selama kurun waktu ini, dan terlalu berharga untuk tak di tetap hidupkan. Engkau menjadi saksi, ketika untuk menjagamu tetap hidup, hingga harus basah kuyup kehujanan, pulang tengah malam, jalan kaki menyusuri sigar bencah karena kemalaman atau kehabisan ongkos, dan seterusnya….

Maka, menulislah…
anak-anak dinegeri ini menunggumu,
mereka merindui menikmati pendidikan yang bersahabat dengan mereka,
dan dari sini kita bisa memulai pencerahan
khususnya kepada guru, orang tua, dan siapa saja yang peduli kepada pendidikan.

Karya Guru : Prestasi Tingkat Nasional 2008

LOmba Esai Pusat Bahasa
Masih ingat dengan BU Mutia dan Mobinta? Beliau berdua adalah guru SAA yang memenangi lomba menulis esai Pusat Bahasa Jateng (info sebelumnya di sini)

Nah, tanggal 28 Oktober 2008 kemarin, naskah keduanya kemudian diikutkan dalam lomba sejenis di Tingkat nasional di Jakarta.
Alhamdulillah, juri kemudian memutuskan artikel Bu Mutia sebagai Juara I dan artikel Bu Mobinta sebagai Juara Harapan I.

Bu Mutia bahkan sempat beberapa hari mengikuti Kongres Bahasa di Jakarta setelah mengikuti malam penganugerahan hadiah. Oleh-oleh dari Kongeres Bahasa ini mungkin nanti akan ditulis sendiri oleh BU Mutia.

Lomba Esai “The Miracle of Story Telling”
Prestasi berikutnya, diraih oleh Bu Mya Wuryandari. Shadow Amellia (Kelas 2C Happy Class) ini mencetak prestasi dengan menulis “Membangun Dunia Lewat Dongeng”, dan berhasil mendapat Juara II, pada kompetisi menulis yang dilselenggarakan oleh KESPPI UNDIP, belum lama ini.
(naskah beliau bisa dilihat di sini)

Barokallahu untuk bu guru. Semoga menginspirasi bagi guru-guru lainnya.
Tetap berprestasi!

Berguru pada ‘Founder’ Sekolah Alam

School of Leading Generation

School of Leading Generation

Guru yang berguru, adalah sebuah keniscayaan. Bahwa demi berkualitasnya pendidikan, seorang guru pun masih harus belajar. Dalam konteks khusus Sekolah Alam, adalah penting untuk melakukan ‘penjagaan’ terhadap karakter cara belajar khas Sekolah Alam. Ini semacam pelestarian nilai dan juga regenerasi ideologis guru. Dan, cara paling efektif untuk itu adalah dengan : studi banding.

Maka, pada medio Agustus lalu, tujuh guru Sekolah Alam, berkesempatan melakukan perjalanan Semarang -Jakarta-Bogor untuk mempelajari perkembangan terkini pada 2 sekolah yang menjadi ‘founder’ alias pencetus ide berdirinya Sekolah Alam. Yup, para guru ini berkunjung ke Sekolah Alam Ciganjur dan School of Universe. Juga ke sebuah sekolah berbasis komunitas yang dulunya bermula dari Homeschooling: Teknonatura.

Dipimpin oleh Kepala Sekolah -M. Wahyudi, S.Pd-, guru-guru SD SAA diantaranya : Bu Ida, Bu Ika, Bu Kasmi, Bu Ratna, Bu Yusni, dan Bu Wiwik melihat secara langsung pembelajaran dan keseharian di dua Sekolah Alam itu. Ust. Nurul Khamdi yang memfasilitasi studi banding ini turut mendampingi dengan menyusul kemudian menggunakan bis Semarang-Jakarta.

Hari pertama (11/08), rombongan menuju Sekolah Alam Ciganjur. Sekolah dengan suasana asri, sejuk, dan bersih ini sungguh menyejukkan hati. Halaman yang luas, banyak tanaman rindang di sekelilingnya, dengan pagar tanaman bambu sebagai pembatas, juga kanopi-kanopi hayati, adalah aksen khas SA Ciganjur. Ini masih ditambah dengan kebun yang cukup luas, tanaman yang hijau subur, polibag-polibag, dan perangkat outbound high impact. Juga saung-saung bambu dipinggir empang lele, plus rumah pohon dengan sulur-sulur pepohonan, menjadikannya makin eksotis. Bahkan SA Ciganjur juga memiliki sarana farming berupa kandang ternak. Beberapa merupakan proyek murid, dan beberapa lagi adalah proyek guru.

Guru-guru kemudian berdiskusi di salah satu sang dipimpin oleh PAk Novi. Kesempatan ini digunakan untuk saling share pengalaman dan pemaparan perkembangan SA Ciganjur, termasuk menonton video klip SA Ciganjur dan juga membeli beberapa buku karya guru SA Ciganjur. Beberapa catatan penting hasil pengamatan dan diskusi ini telah dijurnal. Mengutip catatan bu Wiwik, ia begitu terpana melihat betapa anak-anak SA Ciganjur bisa begitu takzim dan tak ghaduh saat berada dalam masjid (yang beberapa waktu lalu sempat terbakar) untuk menunaikan sholat dhuhur.

Sekolah Lanjutan SAC Rawakopi

Sekolah Lanjutan SAC Rawakopi


School of Universe Parung

School of Universe Parung


Rombongan juga sempat mampir di Sekolah Lanjutan SA Ciganjur, yang dihususkan untuk siswa kelas 4-6 SD dan SMP. Nuansa alami juga tampak kuat, meski saung yang ada rada beda karena menggunakan rangka baja tanpa dinding. Lab. KOmputernya dibangun dari kontainer bekas Begitu juga dengan School of Universe Parung-Bogor, yang diriintis oleh Lendo Novo. Alam dan landscape memang menjadi pendukung utama sekolah alam ini. Keduanya juga sedang membudayakan untuk berbicara menggunakan bahasa asing sebagai cara meraih kecakapan berbahasa. Sementara di Teknonatura, guru-guru disuguhi dengan betapa antusiasnya ketika murid-murid merangkai roket air.
Uji Roket di Terowongan Angin - Teknonatura

Uji Roket di Terowongan Angin - Teknonatura

Masih mengutip catatan bu Wiwik (9 lembar reportase), ia berkeyakinan bahwa SAA bisa seperti mereka. Konsep akhlaq yang baik, kerapian, dan tanggung jawab bisa diambil sarinya dari SA Ciganjur. Sedangkan budaya scientist dari Teknonatura, dan SoU dengan kekuatan Entreprenuershipnya.

Di penghujung studi banding, para guru sempat menakjubi kemegahan Masjid Kubah Emas Depok. Hemmm… “bagaimana caranya membangun dan memakmurkan masjid semegah itu ya?”, begitulah pertanyaan yang dilontarkan oleh bu guru- bu guru SAA it.

Masjid Kubah Emas Depok

Masjid Kubah Emas Depok

(Trims ntuk Bu Wiwik atas reportasenya, sayangnya naskah dalam bentuk file belum didapatkan sehingga belum bisa diupload disini. Juga untuk Bu Ratna yang telah bersusah payah mengumpulkan bahan-bahannya. Bu Kasmi dan Pak Yudi untuk foto-foto studi bandingnya. Semoga studi bandingnya melahirkan keberkahan untuk semua, ya bu…pak…)

Hidup adalah Perjuangan

Butir-butir keringat sebesar jagung nampak jelas dari wajahnya. Dari kejauhan tadi ia nampak berusaha keras untuk menaklukan tanjakan itu. Namun ,akhirnya tak kuat juga. Perlahan, ia mendorong sepedanya, dengan nafas yang masih tersengal-sengal…

Ini tengah hari. Aspal begitu panasnya. Matahari seperti murka saja. Panas menyengat. Kami baru saja rapat koordinasi tadi. Rapat menjelang masuknya sekolah setelah libur panjang. Di saat rapat tadi, ia tak banyak bicara, seperlunya saja. Tapi, sekarang, ia bicara banyak… dengan sepedanya itu…dan dengan tetes keringatnya itu….

Ya, sejak 5 tahun bergabung di Sekolah Alam, baru kali ini aku melihat orang luar biasa. Aku sudah pernah melihat satu-dua para pedagang atau pekerja yang menaklukan tanjakan Sigar Bencah yang kemiringannya ‘over ‘itu dengan sepedanya. Tapi baru kali ini, penakluknya itu adalah teman sekolegaku sendiri. Terlebih, tanjakan itu panjang dan berkelok. Jika naik melelahkan tapi jika turun ‘mblandang’….

Beliau adalah guru baru di Sekolah Alam. Satu semester yang lalu ia adalah tenaga kependidikan tidak tetap memegang amanah di olahraga dan outbound. Itu kemarin. Sekarang ia sudah berstatus sebagai tenaga kependidikan tetap.

Dan, ia berhitung. Jika sehari ia menghabiskan 9000 rupiah sebagai ongkos pulang-pergi. Maka dalam sebulan ia bisa menghemat 270.000 rupiah. Lumayan buat beli susu si kecil. Dan hari ini, bukan hari pertama ia ‘ngonthel’ dari rumahnya di Banyumanik sana. Ia sudah melakukannya beberapa kali. Lelah? Sudah pasti. tapi justru itu yang dicari. Karena ia menargetkan bobot tubuhnya akan turun minimal 2 kg dari aktivitas ini.

Sungguh, kuangkat topi tinggi-tinggi buat bapak yang satu ini. Two thumbs up. Bahwa hidup itu melelahkan..iya. Bahwa hidup itu kadang menjemukan…iya juga. Tapi bahwa hidup itu adalah perjuangan, nah ini dia yang perlu digarisbawahi. Berjuang ya pak… hingga tetes darah terakhir!

Oke, pak Solihin… terima kasih banyak atas hikmah kehidupan yang barusan kau tunjukkan…^_^
Antum cool deh!


(note : tanjakan sigar bencah. foto atas : Pak Solihin dorong sepeda…nggak kuat…)

update : Sabtu 12 Juli 2007
selasa pagi, sekitar pukul 07.30, bus Ridho Illahi yang biasa melewati rute MAngkang-Bukit Kencana dan saban hari melewati turunan Sigar Bencah tertimpa musibah. Rem blog, dan ‘nyungsep’ di hutan jati di pinggir jalan. Alhamdulillahnya tidak ada korban jiwa. Tapi yang luka-luka banyak. Termasuk, ini… PAk Solihin kita, yang hari ini tadi kebetulan naik bus dan tidak mengayuh sepeda. Beliau mengalami luka-luka lecet di kaki.

Foto, diambil oleh Siddiq (murid kls 9) :

Revolusi Sistemik


Sebuah perubahan mendasar sedang bergulir di Sekolah Alam Ar-Ridho. Sebut saja sebagai Revolusi Sistemik. Disebut Sistemik, karena perubahan itu memang sedang membentuk sebuah sistem… yang sama sekali baru.

Para guru telah dikumpulkan pada Selasa (20/5) lalu. Dan Yayasan telah mempresentasikan semuanya. Jika tidak ada aral melintang, semua sistem baru itu akan diberlakukan per 1 Juli 2008, saat tahun ajaran baru dimulai.

Perubahannya bukan tentang kurikulum, tetapi tentang hal yang selama ini sangat jarang (sepertinya lebih pas menggunakan istilah itu dari pada kata tabu) didiskusikan. Yaitu tentang Karir dan Kesejahteraan Guru.

Inilah oase itu. Sebuah angin segar bagi para guru, terutama bagi mereka yang berkomitmen untuk menjadikan SA Ar-Ridho sebagai ladang utama profesi dan pengembangan diri. Menurut Ketua Yayasan Ar-Ridho, Adi Darmawan, M.Si, semangat perubahan ini adalah memberikan keadilan. Maksudnya, apresiasi dari yayasan akan berbanding lurus dengan kinerja guru. Jika guru yang bersangkutan ‘sregep’ dan berprestasi maka take home pay yang akan diperolehnya akan lebih besar daripada guru yang biasa-biasa saja. Demikian juga halnya dengan karir masa depan.

Maka, seperangkat aturan main telah disusun. Aturan main itu berupa pasal-pasal yang mengikat bagi setiap tenaga kependidikan dan non kependidikan di SA A-Ridho. Adapun sumbernya, merupakan adopsi dan modifikasi dari aturan kepegawaian di lingkungan PNS dan perusahaan swasta. Manfaat lainnya, untuk memudahkan proses sertifikasi guru di masa mendatang. Karena, aturan baru ini membuat setiap guru memiliki ‘loker’ pribadi yang berisi : portofolio.

Saat ini, admin belum bisa mengupload bahan-bahan aturan baru itu, karena masih dilakukan perbaikan di sana-sini. JIka semuanya telah selesai, admin akan menyediakan filenya agar bisa diunduh oleh pembaca dan para user. Sebuah posting baru juga akan ditulis nanti untuk mengisahkan hal itu lebih detail. Semoga…

(Foto : para guru Sekolah Alam (SD) sedang berkumpul mengeratkan tali persaudaraan…pada suatu waktu, yang telah lalu…)