Selamanya Guru…

Brothers and sister,
akhi wal ukhti…
pak duru dan bu guru…

ane dan segenap temen-temen guru di sini mendoakan yang terbaik buat antum semuanya…kesuksesan dimanapun antum berada..barokallahu…
murid, dan kami semua bangga dan senantiasa mengenang antum semua sebagai guru yang inspiring, dan penuh dedikasi kepada pendidikan dan anak-anak…
Baca lebih lanjut

Iklan

NAK


(pengantar : puisi keren ini dikirim oleh Pak Imam Sardjono. Katanya sebagai hadiah karena sudah mengupload foto saung. ^_^ Terima kasih kembali pak…thx juga buat puisinya. Tuh pak, saung di awal-awal pendiriannya…dulu banget…mungkin sekitar tahun 2005)

NAK #1
: Harimu…

Ku antar dirimu di gerbang itu nak…
Percayalah bapakmu setia menunggu harimu di saung kehidupan itu

Masuk-masuklah
Jangan kau ragu
Langkahkan kakimu
Kepakkan sayapmu
Cakrawala keilmuan di depanmu
Akar keimanan kan menancap dalam di hatimu
Umbar kebebasan ekspresimu
Kejarlah cita dan harapanmu

Lelahmu adalah bekal nantimu
Peluhmu adalah saksi akhirmu

bila sudah kau cukupkan harimu
berkesahlah dari kedalaman batinmu, biar bapakmu belajar kesabaran
berteriaklah dari kelantangan mulutmu, biar bapakmu belajar mendengarkan
Tertawalah dari keriangan nuranimu, biar bapakmu belajar makna syukur
Menangislah dari resahmu yang dalam, biar bapakmu belajar ikhlas
Rangkailah pengalaman dari kalimatmu yang jujur, biar bapakmu belajar kehidupan

datang-datanglah dalam dekapan bapakmu
doa-doa kan panjatkan dalam setiap aliran darahmu

tidurlah nak…
ini malam telah datang,
istirahatlah,
lepaskan penatmu,
karena esok sudah menunggu


NAK #2

: pada gurumu

Nak mintalah tangga pada gurumu
naikilah awan keilmuan itu

Nak mintalah sayap pada gurumu
berkelanalah di langit biru ekspresimu

Nak mintalah sebilah bambu pada gurumu
Robek sekat kebuntuan pemahamanmu

Tapi jangan kau langgar pagar gurumu
Karena yang akan menjaga jalan akhiratmu

DUSTAMU BUNDA

Bunda kala Senja
Bunda…

Baru kufahami makna dustamu pada kami.

Ketika di meja tengah ruangan rumah, Bunda sudah siapkan nasi di piring-piring untuk kami, Bunda pindahkan separo takaran milik Bunda pada kami…

Bunda berdusta … “Ini bunda tambahkan untuk mu, makanlah nak…, separo sudah sangat cukup untuk perut Bunda, karena ini hari Bunda tidak begitu lapar”

Ketika ikan dari pancingan, Bunda masakkan untuk kami, tapi Bunda hanya makan yang menempel di di antara durinya sementara daging-dagingnya untuk kami.

Bunda berdusta… “Makanlah nak… Bunda lebih suka bagian duri, lebih enak”

Ketika makan satu telor dadar yang diiris-iris dan di bagi untuk kami, piring Bunda sengaja tidak diisi… “mana telor untuk Bunda?”

Bunda berdusta… “Makanlah dulu nak, nanti Bunda masak lagi”

Bunda …

Baru kufahami makna dustamu pada kami.

Ketika dalam kesulitan, sementara kami harus sekolah…

Malam itu kami terbangun dan melihat Bunda masih sibuk dengan banyak jahitan, sampai larut Bunda masih bekerja agar besok bias membayar sekolah dan kami tetap sekolah…

Bunda berdusta… “tidurlah lagi nak, ini masih malam dan besok tersenyumlah saat berangkat sekolah. Bunda tidak capek kok, ini hiburan bagi Bunda”

Ketika tubuh Bunda lemah dan terbaring sakit, Bunda tersenyum kepada kami dengan menahan rasa sakit yang teramat sangat, kami tak kuat menahan air mata kami…

Bunda berdusta… “ jangan menangis nak, coba lihat senyum Bunda, nggak ada apa-apa kan “

Bunda…

Baru kufahami makna dustamu pada kami

Begitu ingat dalam benak kami…

Ketika kami menginjak dewasa, betapa Bunda ingin memeluk kami, membisikkan petuah-petuah kepada kami, mendekap dan melantunkan doa-doa untuk kami, tapi kami malah lari dan mengunci kamar-kamar kami rapat-rapat, dan teriak… “kami sudah tidak kecil lagi”

Ketika kami harus segera membangun keluarga, betapa Bunda ingin mengajarkan bagaimana menjadi suami istri, mengajak diskusi bagaimana keluarga seharusnya berdiri. Tapi kami berargumen… “Ini hak kami, tolong Bunda jangan campuri”

Ketika Bunda mengajari bagaimana merawat bayi… tapi kata kami “Maaf Bunda ini jaman sudah berubah, tidak seperti dulu lagi”

Ketika Bunda memendam rindu ingin bertemu kami, tapi jawab kami “Maaf Bunda kami sibuk dengan urusan pekerjaan dan keluarga kami…. Datanglah lain kali”

Sampai… ketika usia Bunda sudah lanjut dan perlu perawatan kami… kami begitu tega mengatakan “Janganlah tinggal di rumah kami, nanti akan pengaruh negative untuk anak-anak kami”

Bunda…

Baru kufahami makna dustamu pada kami.

Setelah Bunda harus menghadapi illahi rabbi…

RABBIGHFIRLI WALIWALIDAYYA WARHAMHUMA KAMA RABBAYANI SHOGHIRO

Ya Alloh ampunilah mereka… cintailah, kasihilah, sayangilah mereka sebagaimana mereka teramat sayang dan cinta kepada kami. Ampunilah segala dosa kami yang senantiasa durhaka kepada kedua orang tua kami…

….

Terinspirasi : Saudaraku Mufti Arkan/doa yang dibacakan dalam sebuah acara di Situ Gintung-Ciputat/Mudah2an Alloh Swt akan membalas semua kebaikanmu dengan Syurga Nya kelak…

Ikut Berduka yang teramat dalam :
Atas meninggalnya Ibunda dari Ust. Nurul Khamdi/Innalillahi wa innaillaihi rojiun/Mudah2 alloh swt memberi tempat di taman Syurga Nya)

(note : posting ini dikirim oleh Bp. Imam Sarjono. Foto bunda di usia senjanya, diabadikan saat murid-murid SA live in di desa Kalibening, Salatiga)

Story : Menanam Kejujuran

Minggu pagi, tanggal 9 Desember 2007 saya pergi ke Gelanggang Olah
Raga (Gelora) Undip Tembalang untuk menjemput anak saya Gani dan
Pindha yang sedang berlatih sepak bola di sana. Sesampainya di
Gelora Undip ternyata mereka belum selesai berlatih sehingga saya
sempat menunggu beberapa waktu. Kemudian setelah mereka selesai kami
langsung pulang berboncengan menyesuri jalan pintas.

Di sebuah pertigaan di jalan pintas yang saya lalui, motor saya
hentikan. Saya melihat ada dompet kecil (dompet perempuan)
tergeletak di pinggir jalan. Saya perintahkan Gani turun untuk
mengambil dompet itu. Waktu itu di sekitar lokasi sepi tidak ada
orang sehingga kami tidak bisa bertanya dompet milik siapa yang
tergeletak di jalan itu. Kemudian dompet itu kami bawa pulang.

Dalam perjalanan saya tanyakan kepada anak-anak, ” Ada isinya nggak
dompet itu?” ” Ada.” “Banyak nggak?” “Banyak.” Jawab Pindha yang
membuka dompet itu tanpa menghitung jumlahnya. “Nanti uang itu kita
infakkan ke masjid.” Kata saya kepada anak-anak. “Kenapa diinfakkan
ke masjid?” Tanya Pindha. “Uang itu bukan milik kita. Kita niatkan
infaknya atas nama pemilik uang itu walaupun kita tidak tahu siapa
orangnya.” Anak-anak diam tanda setuju.

Setelah kami sampai di rumah dompet itu langsung diserahkan kepada
ibunya oleh Pindha. Kemudian istri saya menghitung isi dompet itu.
Di luar dugaan, ternyata uang yang ada berjumlah Rp 184.000,-.
Seketika itu istri saya berucap, “Kasihan yang kehilangan dompet
ini. Kembalikan sana, siapa tahu ketemu orangnya.”

Dilihat dari warna dompet yang sudah pudar dan lusuh serta
tergantung peniti saya perkirakan isi dompet itu paling hanya
beberapa ribu saja, makanya saya bilang kepada anak-anak uangnya
diinfakkan ke masjid saja. Kemudian setelah melihat isi dompet itu
cukup banyak, bayangan saya uang itu pasti diperoleh dengan cara
susah payah dan sekarang pemiliknya pasti sedang mencari-cari. Maka
siang harinya saya berangkat lagi dengan membocengkan Gani ke lokasi
penemuan dompet tadi.

Pas di lokasi penemuan dompet tadi ada beberapa anak yang sedang
bermain. Saya tanyakan kepada mereka apakah mendengar ada orang yang
kehilangan dompet. Mereka menjawab tidak tahu, maka perjalanan kami
teruskan sampai akhirnya kami berpapasan dengan orang yang baru saja
pulang dari kebun. Saya ceritakan kepada orang tersebut bahwa tadi
pagi saya menemukan dompet. Sekaligus saya minta tolong kepada orang
tersebut kalau mendengar ada orang yang kehilangan dompet sampaikan
bahwa saya yang menemukan. Orang tersebut menyambut baik dan
langsung menanyakan nama saya dan meminta alamat rumah serta nomor
telepon saya.

Betul, sekitar pukul 15.00 WIB anak sulung saya “Sahda” menerima
telepon yang mengabarkan ada orang yang kehilangan dompet,
namanya “Mbah Karni”. Waktu kabar itu diterima saya tidak di rumah
namun tidak lama kemudian saya pulang. Begitu kabar itu
disampaikan saya langsung berangkat dengan membocengkan Gani untuk
mencari rumah Mbah Karni.

Karena alamat yang diberikan jelas, rumah Mbah Karni langsung
ketemu. Begitu kami masuk ke halaman rumahnya, terlihat ada seorang
nenek yang sedang menyapu. Saya berkeyakinan yang sedang menyapu
itu pasti Mbah Karni. Kemudian saya mengucapkan salam dan
menyapanya. “Assalamu’alaikum, Mbah … apa betul kehilangan
dompet?” “Betul.” “Berapa jumlah uang yang ada di dalam dompet
itu?” “Saya tidak tahu, itu uang dari cucu saya. Setiap saya terima
uang dari cucu, langsung saya masukkan ke dompet jadi saya tidak
tahu berapa jumlahnya.” Jawab Mbah Karni. Tapi tanpa saya tanya Mbah
Karni menjelaskan bahwa dompet yang hilang itu ada penitinya. Tidak
ragu lagi ciri-ciri dompet itu betul ada penitinya, maka dompet itu
langsung saya serahkan.

Berkali-kali Mbah Karni mengucapkan terima kasih. “Matur nuwun
Pak……., matur nuwun…….” “Inggih Mbah, sami-sami.” Jawab saya.
Kami bersalaman dan kemudian kami berpamitan pulang.

Peristiwa ini betul terjadi bukan rekayasa. Mudah-mudahan pengalaman
ini bisa melekat di hati anak-anak saya dan mereka dapat menghayati
serta selalu ingat untuk berbuat baik dengan sesama, jujur, tidak
mengambil atau memanfaatkan milik orang lain yang bukan menjadi
haknya. Semoga Allah memberikan petunjuk dan meridhoi setiap langkah
kami. Amin.

(ditulis oleh : Pak Muji Sarwono, berdasarkan peristiwa nyata. Trims Pak Muji, it’s a great experience for our children, moga berbuah di masa depan)  

Berkebun Itu Menyenangkan

Pengantar
Tulisan dan foto berikut ini adalah kiriman dari salah satu orang tua murid, yaitu Pak Muji Sarwono. Beliau ini, nampaknya makin produktif saja dalam menulis. Kali ini, ia berbagi cerita tentang pengalamannya sehari-hari, menyinkronkan ‘kegiatan dasar’ Sekolah Alam : belajar dari alam, lingkungan dan kehidupan; di sekolah dengan di rumah. Di akhir tulisan, beliau memberikan sebuah tantangan. Berani menerima tantangan ?

Kebun PAk Muji

Jika kita hendak menanam atau menghijaukan pekarangan, pertanyaan pertama yang terbersit adalah pohon apa yang akan kita tanam? Maka, jawabannya sederhana saja : Pohon apa saja..!

Namun, kepada anak saya, biasanya saya juga menambahi ,”ingat lahan di rumah kita sempit karena kita tinggal di komplek perumahan. Pohon yang akan kita tanam tentunya disesuaikan dengan luas lahan yang ada.” Artinya kita sebaiknya tidak menanam pohon yang akan tumbuh menjadi besar dan tinggi yang nantinya akan membahayakan rumah kita. Umpamanya kalau pohon itu sudah menjadi besar kemungkinan akarnya akan mengangkat pondasi rumah atau pada musim hujan dan angin kemungkinan bisa roboh dan menimpa rumah kita.

JAngan berkecil hati, jikalau lahan di depan rumah kita sudah tidak ada lagi lahan terbuka karena untuk perluasan rumah, kita masih bisa tanam pohon di pot. Pohon-pohon yang kita tanam nantinya akan menghasilkan oksigen (O2) yang sangat bermanfaat bagi kehidupan. Selain itu rumah kita menjadi indah dan sejuk.

Kita juga bisa memanfaatkan bahu jalan di depan rumah kita untuk berkebun.

Banyak pohon yang bermanfaat dan berkhasiat yang bisa kita tanam. Bagaimana kalau kebun mini yang kita bikin sekaligus berfungsi sebagai apotek hidup seperti yang kami lakukan? Kami menanam pohon mangga, jambu biji, mahkota dewa, murbai, pandan, sereh, lengkuas, katuk, kunyit kuning dan kunyit putih serta beraneka macam tanaman hias baik yang langsung ditanam di tanah maupun di pot.

Kalau pohon mangga kita tanam pasti kita sudah tahu manfaatnya. Disamping hasil utamanya adalah buahnya yang kita ambil, pohon mangga yang daunnya rindang membuat rumah kita menjadi sejuk. Juga karena pohonnya yang rindang banyak burung yang datang terutama burung pipit yang membuat sarang untuk bertelur dan menetaskan anaknya. Suara burung dan keriuhan suaranya pada waktu induknya memberi makan anaknya cukup menghibur kita. Tapi ingat kalau kita tanam pohon mangga (pohon buah) di bahu jalan kemungkinan buahnya akan diambil orang karena ada anggapan kalau pohon ditanam di bahu jalan adalah milik bersama. Jadi jangan kecewa kalau pohon mangga kita berbuah terus buahnya diambili orang.

Disamping itu kami tanam pohon jambu biji yang konon buahnya berkhasiat untuk meningkatkan trombosit. Jadi tidak salah kalau kami menanam pohon itu. Namun katanya buah jambu biji yang paling berkhasiat untuk meningkatkan trombosit adalah jambu biji yang daging buahnya berwarna merah sedangkan pohon jambu biji yang kami tanam daging buahnya berwarna kuning yang orang Semarang menyebutnya jambu sukun. Aroma jambu itu kalau sudah matang sangat harum dan rasanya manis.

Pohon mahkota dewa yang kami tanam pun sudah mulai berbuah. Buah mahkota dewa konon juga berkhasiat namun tidak pernah kami manfaatkan, hanya pernah ada orang yang memintanya yang katanya utuk obat penurun kolesterol. Demikian juga pohon murbai yang kami tanam, disamping seperti yang sudah pernah kita kenal lewat pelajaran sekolah bahwa daun murbai untuk pakan ulat sutera, ternyata dari akar sampai buahnya pohon murbai itu berkhasiat untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Sayang kondisi tanah/alam di Semarang kurang cocok untuk ditanami murbai. Walaupun dapat berbuah tapi hasilnya kurang baik berbeda kalau pohon itu ditanam di Bandungan. Pohon katuk juga sudah sangat terkenal karena daunnya berkhasiat untuk memperlancar ASI. Disamping kunyit kuning, kunyit putihpun kami tanam yang konon berkhasiat untuk menyembuhkan penyakit kanker.

Selain tanaman yang telah kami ceritakan manfaat dan khasiatnya, ada lagi pohon yang telah kami sebutkan di atas yaitu sereh, lengkuas dan pandan. Pohon itu selain dimanfaatkan sendiri terkadang tetangga juga ikut menikmati kalau mereka kekurangan bumbu dapur di rumah. Jadi kebun yang kita buat disamping bermanfaat untuk diri kita sendiri juga bermanfaat bagi orang lain sekaligus berfungsi sosial.

Berbagai tanaman hias juga kami tanam. Ada kesenangan tersendiri merawat tanaman hias itu yang bisa bermanfaat sebagai penghilang stress. Kemudian ada tanaman khusus yang kami tanam. Pada waktu kami membeli buah leachee bijinya ada yang kami tanam dan ternyata tumbuh. Namun pohon itu kami tanam di pot karena keterbatasan lahan.

Anak-anak SA Ar Ridho pasti sudah pernah mempraktekkan menanam pohon/bercocok tanam di kebun sekolah, bahkan sampai menikmati hasil kebunnya, yaitu dimasak beramai-ramai di sekolah. Tapi apakah mereka telah mempraktekkannya di rumah? Berkebun yuuuuk…. agar lingkungan rumah kita sejuk.

Kekuatiran Anak Indonesia

Mencari mata air

Pagi itu, seperti biasanya saya berangkat ke kantor dengan memboncengkan anak sulung saya sekaligus mengantarnya ke sekolah. Begitu kami keluar dari komplek perumahan BKJ kami berpapasan dengan serombongan kerbau. Tiba-tiba anak saya bertanya: ”Yah…kalau semua tanah disini telah didirikan rumah, kemana kerbau itu mencari rumput?” ”Ya …. ke tempat lain yang masih ditumbuhi rumput.” Jawab saya secara spontan. Tapi apakah itu jawaban yang memuaskan buat anak saya? Saya kira tidak. Pertanyaan lugu dan sederhana dari mulut seorang anak tapi memerlukan jawaban yang panjang. Dari pertanyaan tadi tersirat adanya kekuatiran anak saya terhadap kelangsungan hidup kerbau atau kelangsungan usaha peternak kerbau di kampung sini.

Untuk memberikan gambaran alternatif yang bisa dilakukan oleh pemilik kerbau di masa yang akan datang apabila lahan untuk menggembala kerbaunya telah habis, sambil menyetir motor saya pun menjelaskan dan menambahkan jawaban untuk anak saya: ” Itulah dampak dari pembangunan biasanya ada yang dikorbankan. Untuk itu para pemilik kerbau harus mempunyai pilihan, tetap memelihara kerbau tapi harus pindah dari kampung sini karena kalau bertahan ia akan sulit mencari pakan ternaknya dan akan mengganggu kesehatan orang disekitarnya karena kotor dan berbau atau pilihan kedua yaitu kerbau dijual kemudian ganti usaha misalnya menjadi pedagang atau usaha lain sesuai kemampuannya.”

Mendengar penjelasan itu nampaknya anak saya cukup puas. Tapi apakah sesederhana itu masalahnya? Bukan hanya pemilik kerbau saja yang kehilangan usahanya, tetapi petani atau penggarap lahan di sini pun ikut kehilangan mata pencahariannnya. Mereka harus kemana? Bagi mereka yang mampu bersaing dengan pendatang tentu mereka akan bertahan di kampungnya tetapi kalau tidak maka mereka harus hengkang, mencari tempat tinggal yang cocok dengan pola hidupnya.

Bukan hanya penduduk kampung yang menjadi korban, satwa yang hidup disini pun ikut menjadi korban. ”Dulu pertama kali kita menempati rumah di BKJ pada pertengahan tahun 1994, kalau sore hari kita masih bisa mendengar suara kokok ayam hutan di sekitar Sigar Bencah, sekarang mana ada suara itu padahal lahan disini masih cukup luas.” ”Memang ada ayam hutan disini,” Tanya anak saya. ”Ada dan kata orang, dulu di sekitar sini tempat untuk berburu ayam hutan,” Jawab saya penuh yakin karena memang saya pernah mendengar kokok ayam hutan sewaktu saya melintas di Sigar Bencah dulu. Dan apalagi nanti kalau Meteseh sudah padat kemana musang, mencawak, ular sawah dan binatang liar lainnya yang biasa hidup di semak-semak akan pergi? Mereka akan menyingkir atau punah karena dibantai orang.

Mudah-mudahan ini semua bukan awal dari bencana. Nampaknya penduduk Meteseh dan sekitarnya sekilas kalau saya perhatikan cukup siap dengan perubahan karena dilihat dari aktivitas mereka setiap harinya banyak dari mereka yang bekerja di pabrik-pabrik, menjadi pedagang, tukang batu dan usaha lainnya. Namun untuk satwa liar yang ada kemana mereka harus pergi sebelum dibantai orang? Tidak terasa kami sudah sampai di Salak, jalan sudah mulai ramai. Cerita berhenti karena saya harus berkonsentrasi menyetir motor. Ngengg …..sampailah di depan sekolah anak saya. Anak saya turun, saya pun melanjutkan perjalanannya ke kantor.

Kekuatiran anak saya terhadap perubahan lingkungannya cukup beralasan karena sebagian lahan di Meteseh dan sekitarnya telah dimiliki oleh developer. Cepat atau lambat lahan itu akan didirikan bangunan dan Meteseh akan berubah menjadi tempat padat dan ramai.

Sekarang bagaimana dengan murid-murid SA Ar Ridho, apakah diajarkan/diberikan pengetahuan tentang pembangunan yang berwawasan lingkungan? Dan bagaimana program SA Ar Ridho untuk mengantisipasi masalah ini? Semoga kekuatiran anak saya terhadap perubahan (dibaca kerusakan) lingkungan mewakili perasaan anak-anak Indonesia, sehingga mereka akan menjaga agar alam di Indonesia tetap lestari. Amin.

* Muji Sarwono
Orang tua murid Pindha (SD 3) dan Gani (5 SD)

(Note Moderator :
Foto di atas adalah saat kelas 7 adventuring mencari sumber mata air di hutan sekitar bukit sigar bencah. Mata air menjadi salah satu sumber air bagi penduduk Desa Rejosari, desa tetangga Perumahan Bukit Kencana Jaya. Dari tulisan pak Muji ini, timbul pula pertanyaan, sampai kapankah sumber mata air ini mampu bertahan, mengalirkan air bagi kehidupan ?)

Teruntuk : Guruku

 Faiz-Hamzah

Ditengah hiruk-pikuknya usaha perbaikan kesejahteraan guru oleh berbagai pihak yang peduli dengan carut-marutnya kondisi pendidikan nasional, ternyata nasib guru swasta nyaris belum mengalami perbaikan. Mereka masih digaji secara swadaya oleh pihak sekolah yang notabene secara finansial masih serba kekurangan. Pemerintah belum memberikan perhatian yang layak atas kondisi mereka.

Padahal mereka telah memberikan kontribusi yang luar biasa bagi dunia pendidikan, sama halnya dengan guru-guru di sekolah negeri. Tak terbayangkan ditengah arus konsumerisme yang semakin menggila dan harga-harga kebutuhan pokok yang terus naik tak terkira, guru swasta harus bertahan hidup dengan gaji yang tak seberapa. Guru swasta juga manusia, punya keluarga yang harus dicukupi kebutuhannya, sandang pangan, papan, pendidikan dan kesehatan.

Wahai guruku, telah kutitipkan anak-anaku kepadamu dalam naungan kesederhanaan Sekolah Alam Ar-ridho, sekolah swasta.. Sekolah yang berusaha tegar berdiri, dengan corak metode pengajarannya sendiri. Sekolah yang berkeyakinan bahwa anak-anak terlahir penuh dengan potensi, punya keistimewaan sendiri-sendiri. Orang tua dan pendidiklah yang berkewajiban untuk menggali dan mengasah potensi tersebut.

Wahai guruku, kuamanahkan anak-anaku kepadamu, dalam ikrar yang kokoh, mitsaqon gholidzo. Didiklah anak-anaku dalam dekapan cinta, kesabaran dan kelembutan Didiklah mereka menjadi generasi terbaik sebagaimana telah ditorehkan oleh tinta emas sejarah. Salman Al-Farisi intelektual dan teknokrat muslim ternama, sang arsitek keberhasilan perang Khadak. Abdur Rahman bin Auf entrepreneur sukses, saudagar kaya raya nan demawan. Usamah, panglima gagah berani yang memimpin balatentara muslim diusia remaja. Ibnu Sina, pelopor dibidang ilmu kedokteran dunia..

Wahai guruku, jadikanlah mereka pemuda pemuda perkasa yang siap menghadapi kerasnya kehidupan akhir zaman yang penuh fitnah dan persaingan. Pemuda-pemuda yang melewatkan malam-malamnya dalam tangis penuh harap dan rindu berjumpa kekasih sejati, Rabbul Izati. Didiklah anak-anak perempuanku agar menjadi wanita mulia dengan malu sebagai perhiasannya. Jadikan mereka secerdas Aisyah, setabah dan setegar Fatimah.

Wahai guruku, kusampaikan salam hormatku kepadamu, bersama berjuta bahkan bermilyar-milyar malaikat, yang tersebar diatas bermilyar galaksi, yang takzim atas segala keikhlasan perjuangan dan pengorbananmu. Tak ada yang bisa kuberikan kepadamu selain senandung qasidah doa melintasi ruang dan waktu agar rahmat Alloh senantiasa meliputimu. Dalam balutan segala keterbatasan, senyum tulus senantiasa terkembang diantara celoteh anak-anak didikmu. Aku tahu, hanya Ridho Alloh yang menjadi tujuannmu.

Wahai guruku., mungkin terlalu banyak aku meminta, terlalu tinggi aku berharap. Mungkin ini sebuah ironi mengingat segala keterbatasan yang melingkupimu. Tapi kepada siapa lagi kugantungkan segala harapanku, selain kepadamu. Ketika malam merambat semakin tua, ketika lelah membuncah setelah seharian bekerja, diam-diam kau pandangi wajah istri dan anak-anakmu yang telah terlelap, dengan mata berakaca-kaca terucap seuntai harap: “Oh istri dan anaku betapa aku ingin membahagiakanmu, mencukupi segala kebutuhannmu…”

Wallohu alam bishowab.

* Teguh Iman
Orang tua murid Faiz-Hamzah-Fira.
(Tulisan ini dikirim melalui email dari Pontianak, juga untuk titip salam kangen buat putra-putrinya, diantaranya si kembar Faiz dan Hamzah yang ada di  foto di atas.)

Sekolah yang Membebaskan

Ilustrasi Sekolah yang membebaskan“Subhanallah, … menakjubkan!” begitu, barangkali, komentar spontan sebagian orang ketika mengamati foto di samping. Betapa tidak?! Saimai – nama seekor harimau benggala di pusat penangkaran harimau Racha, Thailand ini – telah mengajarkan kepada kita bahwa binatang buas pun bisa berbagi kasih sayang dengan sesama binatang, bahkan dengan hewan yang mestinya menjadi mangsanya! Sementara, sesama saudara pun kita masih suka saling menikam. Di panggung-panggung sirkus, kita juga sering dibuat tercengang menyaksikan atraksi aneka satwa yang berhasil ‘dididik’ menjadi pekerja yang jinak, patuh, dan ‘cerdas’.

Selamat! Jika Anda setuju dengan pernyataan di atas, berarti kepekaan moral Anda tak perlu diragukan. Tapi, Anda akan berpendapat lain bila Anda seorang pendekar HAB (hak asasi binatang). Habitat harimau adalah rimba belantara, bukan kebun (baca: penjara) binatang atau panggung sirkus. Nah, apa yang terjadi bila Saimai ini dilepas di hutan? Satu-dua hari barangkali ia akan tampak riang karena punya lebih banyak teman yang bentuk dan perilakunya bermacam-macam. Namun, kian hari ia akan semakin kurus, dan lama-kelamaan mati kelaparan atau keracunan. Rusa dan segala macam binatang lain yang lari tunggang langgang setiap berjumpa dengannya tidak dipahami sebagai mangsa yang sedang ketakutan, melainkan dipersepsikan sebagai teman yang mengajaknya bermain dan bercanda. Tidak mustahil, lama-kelamaan ia mencoba memakan dedaunan, meniru perilaku ‘kawan-kawannya’.

Itulah analogi sekolah-sekolah konvensional, yang selama sekian dekade dipercaya oleh masyarakat sebagai tempat pendidikan anak-anak mereka. Sistem pendidikan konvensional telah meraih sukses besar dalam membangun penjara bagi ribuan, bahkan jutaan, potensi fitrah anak manusia. Potensi berpikir logis-analitis-kritis, naluri ingin tahu, ingin mencoba, menguji kesahihan informasi, mengungkapkan gagasan, mempertahankan pendapat, dan segala potensi kreatif yang lain sketika diberangus begitu anak menginjakkan kaki di gerbang penjara berlabel ‘sekolah’. Jangankan memperoleh pengakuan dan penghargaan, sekadar mereguk kasih sayang pun menjadi impian utopis bagi sebagian besar anak sekolah.

Ilmu pengetahuan – yang secara hakiki memiliki watak terbuka – di sekolah sudah dikemas rapi menjadi rumusan fakta yang haram untuk dipertanyakan, apalagi diperdebatkan. Pengetahuan – yang oleh para penemunya dulu dikonstruksi berdasarkan pengalaman belajar empirik – di sekolah sudah dikemas menjadi informasi verbal dan disajikan secara instan. Satu-satunya hak sekaligus kewajiban anak adalah merekam kata, frase, atau kalimat yang pernah diterima dari guru. Jangan lupa, biasanya sang guru pun hanya mengutip susunan kata-kata yang tertuang di dalam buku (atau malah LKS?) yang setiap hari ditenteng keluar masuk kelas. Bila sudah tiba saatnya guru memencet tombol ‘play’, anak hanya boleh me-recall kata atau frase (jarang diminta menjawab dalam bentuk kalimat) yang pernah direkamnya.

Pengalaman (baca: kebiasaan) mengajar seperti itulah yang membuat banyak guru di negeri ini terpana menyaksikan ‘daya ingat’ komputer. Keterpanaan itu pula yang membuat mereka gagap (baca: takut) memanfaatkan kecanggihan mesin pintar ini. Mereka terpana karena hanya dengan dua kali klik, komputer mampu memunculkan kembali secara persis dan utuh dokumen yang pernah disimpannya. Bandingkan dengan murid-muridnya! Sudah di-drill seminggu tujuh kali, masih ada yang salah memilih jawaban soal dalam tes atau ulangan. Dalam hati, guru-guru protes kepada Sang Khaliq, “Kenapa Tuhan, yang katanya Mahasempurna, tidak becus menciptakan otak anak-anak itu sepintar komputer?” Ya, bagi guru seperti itu, daya rekam komputer adalah standar puncak kepandaian murid-muridnya.

Tidak mengherankan jika anak sekolah, dari SD hingga S-1 (jangan-jangan S-2 dan S-3 juga?) sering mengalami error ketika menghadapi situasi baru, yang belum pernah terekam di dalam memorinya. Persis seperti komputer yang mendadak error bila menerima perintah yang tidak dikenali oleh sistem operasinya. Kapasitas kerja otak manusia yang unformatted itulah yang dinafikan oleh guru-guru konservatif di sekolah-sekolah konvensional. Yang tidak kalah ironis, anak-anak – benih-benih khalifah Allah di bumi – itu tidak lagi dipandang sebagai integrasi raga-rasio-rasa. Anak sekolah diperlakukan tidak lebih dari organisme mekanistik belaka.

Akankah pengkhianatan atas fitrah anak manusia ini kita biarkan menimpa anak-anak kita, yang notabene investasi masa depan kita – saham dunia-akhirat kita?

Sekolah alam hadir dengan konsep pendidikan fitrah. Setidaknya, begitulah persepsi saya. Yang pasti, saya bersyukur sebuah sekolah alam hadir di lingkungan tempat tinggal kami tepat ketika anak pertama kami memasuki usia sekolah. Dan alhamdulillah, sekolah alternatif itu lahir dari rahim lembaga pendidikan yang committed pada manhaj Islam. Lengkaplah sudah, alasan untuk menjatuhkan pilihan pada Sekolah Alam Ar Ridho.

Beberapa orang pernah bertanya kepada saya mengapa anak-anak kami tidak bersekolah di tempat saya mengabdi. Jawaban saya: ya tulisan ini.

Bukit Kencana, Februari 2007

*Teguh Gw
orangtua Zahid Wisanggeni (2B) dan Qonita Qurrota A`yun (A1)
Beliau kesehariannya juga adalah seorang guru di sebuah Sekolah di Semarang.