Ketika Ia Menangis dalam Kesendirian

Alone

Alone

Jumat lagi. Mendung lagi. Dan catatan harian ini tertulis lagi, dalam rasa hitam kopi tanpa gula, pahit.

14.30
Jelang ashar di sekolah, meski sore belum jatuh benar tapi gelapnya sudah seperti jam 5. Dan aku melihatnya. Sendirian, menekuk lututnya, sambil mengais-ngais kerikil. Matanya ‘mbrambang’, merah. Gila! Mata kecil itu, seperti sumur yang amat dalam. Menyimpan sesuatu. Full of pain. Sudah pasti, ia sedang terluka.

“Kenapa?” tanyaku. Tapi seperti yang kuduga. Dia cuma menggeleng, tanpa melihat siapa yang menyapa. Ia asyik mengusik kerikilnya, atau mungkin berusaha menyembunyikan mata merahnya.

Aku berlalu, sambil mengusap-usap kepalanya. Aku sedang terburu-buru. Masih ada waktu 30 menit sebelum adzan ashar. Sore ini aku harus mendownload sesuatu dari email, karena nanti malam aku harus menyetorkannya. Pekerjaan yang telah jatuh tempo. Karena sekolah sedang offline, maka warnet menjadi tujuan.

**

15.00
Adzan berkumandang. Bergegas kembali ke sekolah.
Dan, Ya Allah… anak itu masih ditempatnya. Setengah jam ini berarti ia tak juga beranjak dari tempatnya. Kepalanya rebah seakan lehernya tak punya daya untuk menyangga. Dagunya ia tumpukan diatas tangannya. Bahunya berguncang-guncang. Air mata menetesi pipinya. Bajunya, merah lusuh, dan basah. Anak ini sudah menangis dari tadi. Tapi tanpa suara. Cuma itu, dengan bahu yang terguncang-guncang dan mata yang tergenang bersama tatapan sayu. Sedetik, aku turut berdesir. Mendung sore ini, ditambah angin dingin dan suasana yang menggelap, membuatku begitu bisa merasakan Ardi yang menangis sendiri.

“Ardi, kamu kenapa?” tanyaku. Ia malah menenggelamkan kepalanya.
“Ardi, kamu ingin pulang ya?” tanyaku menduga-duga. Kulihat sekeliling. Sudah tak ada lagi anak sebayanya di lapangan belakang ini. Ini hari Jumat. Bearti kelas kecil pulang jam 11 siang . Itu berarti ia sudah menunggu di sekolah sekitar 4 jam. Ardi lalu mengangguk pelan.

“O… kamu pasti dari tadi menunggu bapak, kan? Itu mah gampang. Ayo, sini kita telpon bapak. Tuh, dikantor ada telpon. Nggak usah takut” kataku berusaha menenangkan. Ia masih diam tapi bahunya sudah lebih tenang. Kupapah lengan kecil itu menuju kantor.

“Ardi, tahu nomor telpon bapak?” tanyaku. Ia kemudian menyebut sejumlah angka. Lalu, tersambung, dan aha… suara di seberang sana mengatakan sedang dalam perjalanan. Sekilat cahaya merubah mata ardi menjadi lebih hangat.

“Sudah, ayo dihapus air matamu dengan air wudhu. Malu nanti sama bapak kalo tahu Ardi si jagoan nangis karena bapak telat menjemput. Bapak tadi bilang, jemputnya kamu nanti di masjid. Ayo kita ke tungu di masjid aja” Ardi bergegas menyeka matanyanya, plus ingusnya yang ikut-ikutan keluar juga. Hihi, tapi sembabnya tetap saja tak bisa hilang.

Kubantu membawa tasnya, dan kurengkuh bahunya, seperti memapahnya.
“Ardi kenapa pak?” tanya seorang muriku yang SMP melihat pemandangan itu. Beberapa temannya juga menoleh ke arahku. Hemmm… sebenarnya jarak dari Ardi menangis sama lokasi tempat anak-anak SMP ini beraktivitas, tidaklah jauh, cuma 10 meteran saja. Mereka pasti melihat Ardi yang sendirian di pojok tadi. Tapi mungin karena sedang sibuk, atau apalah, yang jelas murid-murid besarku ini tak berbuat apapun kepada adik kelas kecil nan ringkih ini.
Sampai di halaman depan, 3-4 anak laki-laki, mungkin teman sekelasnya Ardi, berteriak “Ardi, Fahril minta maaf ya…” Ada juga yang bertanya, “Ardi kenapa pak?”

Ardi terus berjalan, tak menjawab sepatah katapun, dan juga menoleh. Ow, ini toh sebabnya, dobel berarti penderitaan si Ardi. Terlukai perasaanya karena ulah teman dan bapak yang tak kunjung datang. Dia pasti merasa begitu tersisih. Teman-temannya bermain di lapangan depan, dianya terusir ke lapangan belakang, sendirian.

**

Pernah kudengar cerita sebelumnyanya, bahwa Ardi seringkali selalu dalam posisi terkalahkan dan tersisih, terdholimi begitulah. Perawakannya yang kecil, rambut yang takpernah rapi, baju yang pasti kotor, ingus disana-sini membuatnya berada di posisi marginal diantara teman-temanya. Fenomena Ardi, bagiku adalah sebuah gunung es. Jika ia ada di sekolah model SA ini, berarti akan lebih banyak lagi jumlahnya di sekolah regular.

Dalam kehidupan tingkat lanjut, di Amerika misalnya, anak-anak ini kemudian tumbuh menjadi figur yang hatinya penuh luka. Mereka kemudian menyelesaikan dengan cara yang khas : Shoot them all! Menembak teman sekolahnya sendiri.

Benar kata Kak Seto, lembaga bernama sekolah mesti segera mengintrospeksi diri. Bahwa kekerasan telah nyata-nyata ada dan menjadi bahaya laten di sekolah. Baik kekerasan fisik maupun kekerasan psikis yang jumlahnya jauh lebih banyak dan tak terpblikasi.

**

By the way, aku tiba-tiba teringat adik laki-laki kandungku sendiri yang masih 10 tahun nun jauh di Sumatera sana, yang saat ini sedang tergolek sakit. Liper kata ayahanda. Terpisahnya jarak, membuatku tak mungkin bisa berbuat apa-apa jika saja ia berada dalam posisi seperti Ardi. Adikku yang lain pernah bercerita adik laki-lakiku itu sering berkelahi dengan temannya. Padahal aku tahu persis, badannya cungkring dan kecil. Ia pasti membela sesuatu. Entahlah…

Juga teringat pada baginda Rasulullah SAW, yang selalu tak tahan melihat anak kecil menangis, terlebih dalamkesendiriannya. Beliau tak segan mengangkat seorang anak menjadi anaknya, demi mengetahui si anak adalah anak yatim, terlebih yatimnya karena ayahnya syahid ketika berjihad bersama Rasulullah. Begitu juga para sahabat di sekitar Rasulullah.

Jumat sore ini, ditutup dengan doa,
“Rabbana hablana min azwajina, wa dzurriyatina qurrotu ayun, wa ja’alna lil muttaqina immama. Jadikanlah anak-anak kami sebagai penenang hati dan kelak menjadi pemimpin dikalangan orang-orang bertakwa”. Amin…

(note: phot courtesy from http://www.bracknell-forest.gov.uk, its for the firstime, we don’t use our photo doc.)

Iklan
By sekolahalamarridho Posted in Problema

3 comments on “Ketika Ia Menangis dalam Kesendirian

  1. alhamdulillah sekarang ardi sudah dipindah dikelas yang berbeda awalnya percobaan tetapi melihat perkembangan ternyata ada perubahan yang signifikan…ia sekarang sudah enjoy belajar bersama teman-temannya di kelas yang baru..jazakumulloh atas perhatiaannya..

  2. alhamdulillah.. ikut bahagia saya.
    sungguh, saya tidak bisa membayangkan perasaan kalau saya sperti itu..
    pun aku pernah pnya anak didik sperti itu… harus didekati dengan hati…
    btw, sukses slalu buat pak yudi…
    pak don, shoot gambarnya yang banyak donk… masak pake gambar orang lain…. dengan sgala yang dimilki… tetap cinta produk dalam negeri ah,,,

    afwan, dah lama br ngasih comment..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s