Sepenggal Sore di Sekolah Alam

Hujan turun putus-putus sore ini (16/1). Kadang menderas, mereda, lalu gerimis lagi, lalu deras lagi. Di Semarang bawah, kondisinya malah hujan sepanjang hari. Sebagian penduduk diberitakan sudah mengungsi ke Rusunawa. Dibelahan lain, jauh di Palestina sana, juga tengah turun hujan, hujan yang lebih dahsyat, hujan peluru dan mesiu.

Pun demikian, selalu ada rahmah dibalik semua itu. Sehingga tak ada jalan lain selain mensyukuri karunia Allah ini, bahkan jika ia harus berwujud musibah atau ujian kehidupan.

Ba’da ashar Jumat ini, sekolah masih ramai. Beberapa mahasiswa danibu-ibu menggelar majelis ta’lim di salah satu ruangan. Di Greenhouse, seperti biasa, Pak Arifin bersama anak-anak Kandang Be-Te (Bengkel Teater SMP) sedang bergelut dengan lumpur merampungkan proyek besar mereka. Setiap hari saban sore mereka menyediakan waktu dan tenaga, tanpa keluh kesah, merawat Greenhouse. Secoret tulisan di whiteboard usang menyemangati mereka. Tulisannya : “You will never walk alone”

Anak-anak Kandang Be-Te (Bengkel Teater)
Anak-anak Kandang Be-Te (Bengkel Teater)

Di Ujung taman, segelintir anak-anak SMP anggota Klub Foto sedang mengerubuti tanaman. Mereka sedang berburu embun dan tetes-tetes hujan yang terperangkap di daun. Mereka sedang mengasah kemampuan fotografinya meski hanya dengan kamera digital saku.
Uyun (Klub Foto Kelas VIII) in Action
Uyun (Klub Foto Kelas VIII) in Action

Yuni (Klub Foto Kelas VIII) membidik foto Macro
Yuni (Klub Foto Kelas VIII) membidik foto Macro

Rara (kelas VIII) juga tak ingin ketinggalan
Rara (kelas VIII) juga tak ingin ketinggalan

Deni (kelas VII) tak kurang akal, kamera  ditutupi plastik biar tak kena air hujan..
Deni (kelas VII) tak kurang akal, kamera ditutupi plastik biar tak kena air hujan..

Semuanya berusaha untuk memberikan yang terbaik. Mungkin nanti pada bulan Maret 2009, saat Open House sekolah digelar, anak-anak ini juga anak-anak lain bisa memamerkan karya mereka kepada khalayak. Bahwa di sekolah ini mereka berproses…dan mengalami. Sebuah tahapan penting dalam belajar. Bahwa sukses di masa depan, sebagian ditentukan pada kenangan manis di masa kini.

Ustad Nurul kemudian datang. Habis dari Gramedia beliau langsung meluncur ke sekolah. Sebuah buku bagus dibawanya, judulnya Kecerdasan Emosi-nya Daniel Goleman. Buku yang kini sudah masuk cetakan ke-17 sejak terbit pertama tahun 1996. Menjadi menarik, karena menurut buku itu kecerdasan emosi ternyata jauh lebih penting dari pada kecerdasan intelektual.

Hari sudah gelap ketika kami menghabiskan pisang rebus Bu Jan yang sudah dingin. Sayup-sayup azan magrib berlomba ketika kami kemudian melangkah pulang, meninggalkan ustad yang masih berdiam di saung sendirian…

Iklan

6 respons untuk ‘Sepenggal Sore di Sekolah Alam’

Add yours

  1. teruslah melangkah wahai para penerus peradaban,,….
    suatu saat nanti kau kan catat titik indah…

    teruslah berkreasi..
    dunia ini begitu luas dan amat menggairahkan untuk tidak ditinggalkan begitu saja….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: