Hakikat Sebuah Perpisahan

Bu Desi bersma murid kelas 6 angktan ke-2

Hujan tangis…tapi tertahan…juga peluk erat.
Para bu guru tak mampu menyembunyikan kesedihan mereka. Senin (21/4), itu adalah hari terakhir mereka, menikmati kebersamaan bersama Bu Desi. Guru yang telah mengabdi di sekolah Alam selama 8 tahun lebih lamanya, sejak sekolah didirikan, tahun 2000.

Tak dapat dipungkiri, dalam kurun waktu itu, Bu Desi telah banyak mencetak sejarah. Dan jejak-jejak abadi pengabdiannya masih terasa kuat hingga kini. Ia telah menciptakan kesan yang begitu kuat di benak para guru. Sebagai pendahulu, ‘assabiqunal awalun’-nya Sekolah Alam, ia telah menjadi kakak bagi para guru dan sumber inspirasi yang tak pernah kering.

Dan kini, dengan segala keindahan pengabdiannya itu, ia …duduk diantara para guru…mengucapkan kalimat terakhirnya….

“Saya, sampai detik ini, juga tidak percaya, bahwa hari ini adalah hari terakhir saya di Ar-Ridho…Tapi, saya berkeyakinan, satu hilang akan terganti dengan yang lebih banyak dan lebih baik lagi…”, kata Bu Desi membuka kata perpisahan. Kalimat selanjutnya,…terasa begitu susah terucapkan…ia begitu tersendat-sendat… Berlomba dengan bulir-bulir air mata yang mulai jatuh satu persatu… Dan suasana mendadak hening….

***

Ahhh…,
bilakah ada perpisahan yang tak menyisakan kesedihan… Terutama bila mengenang segala suka duka yang telah dilewati bersama… yang nanti bakalan cuma jadi seonggok kenangan.

Bilakah ada perpisahan yang tak melahirkan kegetiran, terutama saat kita tahu pasti, masih ada sekeping impian yang masih belum tergengggam…

Di permukaan, sebuah perpisahan memang menyedihkan dan menggetirkan… Namun, jauh kedalam, sebenarnya bolehlah sebuah senyum tersunggingkan. Dibalik sebuah perpisahan, selalu ada sebuah energi besar yang tak terbantahkan. Energi yang menjadi inspirasi kehidupan. (Lihatlah, bahkan dalam detik-detik kepergiannya, Bu Desi ini juga masih bisa memberikan inspirasi… buat orang yang bisa menemukannya)

Bahwa, berpisah adalah sebuah kesemestian, utamanya saat pintu gerbang mimpi telah terbuka di hadapan. Seperti bayi mungil yang memilih bangkit dari pangkuan sang bunda saat ia melihat bahwa berjalan dan berlari ternyata lebih menyenangkan. Dengan berlari, berdiri diatas kakinya sendiri, ia bisa memetik bunga-bunga, bisa menarik mobil-mobilan kemanapun ia suka…

Sesaat sang ibu mungkin bersedih karena tak bisa lagi mendekap dan menimang-nimang, tapi senyum yang terkembang kemudian jauh lebih lama dan lebih abadi, karena melihat sikecil kemudian tumbuh menjadi pemuda dewasa yang memiliki segala kesempurnaan kemampuan, bahkan berbalik menjadi pelindungnya kini.

Maka, sejatinya, perpisahan tidaklah kejam. Ia adalah kesemestian, sebagai pasangan sejati perjumpaan. Bergembira saat berjumpa maka tidak ada pilihan lain, kita mesti bergembira pula saat berpisah. Meski gembiranya berpisah itu rada ‘ngganjel’ karena dihiasi pula dengan air mata…

Ya, justru sebuah acungan jempol buat Bu Desi, yang telah berhasil membuat sebuah keputusan hidup. Melihat matahari terbit dari penjuru timur yang lain adalah hal yang keren. Ia telah berhasil melangkahkan kakinya memasuki gerbang baru dalam mimpinya. Menjadi sosok baru dalam spirit baru. Dengan itu, saat yang lain telah memasuki masa kehabisan energi, ia justru sudah berada dalam kondisi batere ter-charge baru. Ready to fight ready to sacrifice…

^_^ Selamat jalan sobat. MAafkan atas segala salah dan khilaf. Tak ada perpisahan yang benar-benar di dunia ini. Selama kita mencintai baginda yang sama, dien yang sama, maka hati akan selalu terpaut, tak akan bisa terpisah, apalagi jika cuma karena beda letak jasad dan jarak.

selamat pula mengukir prestasi, di tempat mengabdimu yang baru, seperti yang biasa kau lakukan disini sebelumnya. Sekali menjadi matahari maka tetaplah ia sebagai matahari. Selalu ada kami disini, saat kau membutuhkannya…membutuhkan teman bicara… membutuhkan segala hal yang ingin kau dapatkan, untuk menjadikan dirimu mampu eksis di tempat baru… tak perlu sungkan-sungkan. Kami ada karena kau juga pernah ada. Dan ketiadaanmu kini takkan bisa menghapus segala sesuatunya yang pernah ada…yang pernah kau buat dan kau ciptakan…

(ini berlaku buat pakahmad juga, tapi dengan sedikit modifikasi ya pak…seperti yng kemarin di pondok Aisyah ^_^)

^_^ Doakan aku juga segera menyusul…melangkahkan kaki memasuki gerbang impian…(dr)

Another Pict :

Perpisahan dengan Bu Desi di Pondok Aisyah

2 comments on “Hakikat Sebuah Perpisahan

  1. entah ini kata untuk siapa

    mungkin kepada …
    yang mengoreskan sejarah
    yang meninggalkan banyak langkah
    yang setia dan bijak menemani
    di awan keilmuan
    dikedalaman keimanan
    tumbuhnya cita-cita dan harapan
    ……
    perpisahan
    kehilangan
    sedih

    (tapi itu kepastian)

    : hormat saya dan istri serta anak-anak (syasa, muthi, fia dan thufail)

  2. sungguh sulit untuk berkata-kata….
    be my love…..
    my friend…..
    my sister….
    my teacher….
    moga Allah selalu merahmatimu
    dimanapun, apapun kegiatanmu
    mb dec……

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s