Insting Mengeksplorasi

(Berikut adalah artikel (1) menarik kiriman dari Pak Imam Sardjono, yang beliau kutip dari Mohammad Fauzil Adhim, dan dimuat di Suara Hidayatullah)

Pada suatu hari, Howard Gardner -penemu Multiple Intelegence- pergi ke Singapura. Di sana ia melihat seorang bayi berusia delapan bulan sedang menangis. Untuk menghindari kecemasan si bayi karena bertemu dengan orang dewasa asing, biasanya Gardner menggunakan dua metode. Pertama, dia tidak kontak mata dengan si bayi, namun membiarkan bayi itu untuk mengamati dirinya. Kedua, dia memberikan kacamatanya untuk dimainkan si bayi.

Menurut Gardner, kedua teknik itu selalu efektif utuk bayi-bayi di Amerika. Namun kedua pendekatan ini tidak berhasil bagi bayi ini ia tidak memperhatikan dan tidak mau menyentuh kaca matanya. Ketika kemudian Gardner bertanya pada orang tua di Singapura, ia mendapat jawaban bahwa anak-anak di rumah tidak diizinkan untuk menyentuh atau memainkan benda kecuali mainan. Ada dua alasan, pertama karena terlalu mahal, atau khawatir membahayakn si bayi. Tapi Gardner memikirkan kemungkinan ketiga bahwa anak dipaksa untuk manahan nalurinya untuk menyukai eksplorasi.

Sebagai orang Amerika, ia sangat terkejut dengan larangan tersebut. Berdasarkan pengalaman di negerinya, setiap anak pada usia satu sampai dua tahun selalu diizinkan untukm bermain dengan benda-benda yang ada di sekitar rumah dan orang dewasa biasanya menjauhkan benda-benda yang bisa membahayaknnya. Secara umum, orang Amerika memandang eksplorasi sebagai sebuah kebajikan. Mereka sangat berbahagia ketika anak-anaknya berusaha mengikuti apapun yang dilakukan orang dewasa di sekitarnya.

Ketika Gardner ke Nanjing, China, ia membawa bayi berusia 18 bulan yang ia adopsi dari Taiwan sejak masih bayi. Setiap hari, Gardner selalu mengizinkan Benjamin, sang bayi, untuk memasukkan kunci di hotelnya. Sang bayi selalu merasa senang mencoba, meskipun ia berhasil atau tidak.

Pada suatu kali ada orang China melewati mereka, dan menyaksikan bagaimana Gardner dan istrinya membiarkan Benjamin mencoba memasukkan kunci ke dalam slotnya. Dia memandang dengan pandangan yang kurang setuju, dan berkata, “Kalian orang tua yang tidak berperasaan. Apakah kalian tidak mengerti bagaimana cara membangun kemamouan anakmu. Daripada membiarkan anakmu menjadi frustasi, mengapa tidak diajari bagaimana cara yang benar untuk membuka kunci itu!”

Teguran orang China tersebut, lagi-lagi membuat Gardner tersadar bahwa kecenderungan orang tua di Asia berbeda dengan di negerinya. Di Amerika dan di negara barat lainnya, para orang tua umumnya mendorong anak untuk selalu bereksplorasi, menyelesaikan persoalannya sendiri, dan membiarkan mereka mengatur benda dan segala sesuatunya sendiri. Mereka memandang hal itu sebagai hal positif bagi perkembangan anak-anak, ketika mereka mencoba segala sesuatu, seperti ketika mereka memainkan kaca mata dewasa atau memainkan kunci. Pembangunan dan perkembangan otak anak jauh lebih mahal ketimbang harga benda-benda yang dimainkan itu.

Itulah mengapa wajar jika orang-orang Barat, pada masa ini selalu memimpin dunia dalam mengeksplorasi semesta baik luar angkasa maupun samudra lepas. Bagaimana dengan kita? Bagi setiap bayi, Allah Ta’ala telah menganugrahkan insting untuk menjadi seorang oeneliti bagi dunia sekitarnya baik dengan tangan, kaki, mulut, maupun anggota tubuh lainnya.

Akankah kita mematikan naluri tersebut? *

Suara Hidayatullah Edisi Maret 2008

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s