OPINI GURU : Making Our School To be Better (2)


Semakin hari, stakeholder sekolah semakin meningkat kualitasnya. Orang tua yang mempercayakan muridnya dididik di Sekolah Alam belakangan ini semakin nampak bahwa mereka adalah orang tua kritis yang memiliki idealisme tersendiri bagi pendidikan anak-anaknya. Paradigma Diknas perlahan juga mulai membaik dan menuntut kita untuk lebih prestatif, tak lagi introduktif. Masa perkenalan telah habis dan berganti dengan masa kinerja konstruktif.

Konsekuensinya adalah, kita mesti menggugah diri, tersadar dari lamunan atau hipnotisme rutinitas, sejenak “naik ke angkasa dan melihat sekolah dari kejauhan”. Kita mesti mencari cara untuk mengimbangi dinamisasi di kalangan orang tua dan juga pengamat pendidikan. Juga untuk mengenali lingkungan (environment) yang makin hari juga makin berubah rupa wajahnya.

Hal berikut ini mungkin bisa menjadi catatan, (dari kacamata sebagai guru atau sekedar staf) :

Jika kekuatan sekolah, kita ibaratkan sebagai ware (perangkat), maka fokus utama perbaikan ada pada perangkat lunak yang menyangkut ketangguhan SDM dan perangkat kerasnya seputar infrastruktur. Kedua hal ini akan menciptakan satu hal lagi, yaitu atmosfir atau sistem atau kultur.

SOFTWARE :

  1. Perkuat karakter guru tentang ke-Sekolah Alam-an

How ?

  • Sediakan dan dekatkan segala informasi yang berkaitan dengan Sekolah Alam agar mudah diakses guru. Baik berupa buku, artikel, informasi, kliping, makalah, presentasi, foto, video/film, blog, website, atau apa sajalah.

     

  • Beri pendampingan pada guru-guru baru atau guru yang membutuhkannya saat menjalankan tugas kesehariannya sebagai guru, khususnya pada bagian Metode dan Hikmah, yang memang tidak ada di kurikulum diknas ataupun buku paket.

  • Rancang sebuah forum pertemuan guru yang berkualitas, dimana guru tidak malu dan segan atau malas untuk mengeluarkan ide dan pemikirannya. Atau dengan kata lain hadir sepenuh jiwanya. Bukan hadir secara fisik saja dan hati berharap agar cepat selesai. Forum ini menjadi ajang share pengalaman atau hal semacamnya. Ia juga menjadi semacam ’bengkel kerja’ guru. Potensi guru mesti terlihat utuh disini.

  • Studi banding-kan atau magangkan secara sistemik dan teratur pada institusi yang dinilai mampu membangun paradigma positif atau relevan dengan karakteristik Sekolah Alam.

  • Atmosfer ideal adalah Sekolah Alam sebagai rumah kedua, fokus utama dirinya. Karena itu BK (Bimbingan Konseling) mestinya ditujukan kepada guru, bukan anak-anak. BK menjadi fasilitator bagi guru dalam mengatasi permasalahan hidupnya, semata agar ia bisa konsentrasi penuh kepada sekolah. Termasuk didalamnya adalah soal pemenuhan kesejahteraan guru yang adil dan syari’i, juga apresiasi terhadap guru yang berprestasi dan inovatif (prestasi dalam artian luas).

  1. Up grade kemapuan skill teknis

What and How ?

  • Penguasaan kelas. Guru adalah jantung kelas, karena itu ia mesti bisa menjadi pusat perhatian dan mampu mengendalikan kelas, menjadi problem solver dari berbagai masalah yang ada di kelas. Ada proses perolehan pengalaman menjadi asisten guru dulu sebelum menjadi guru utama atau guru kelas, khususnya pada guru baru.
  • Kemampuan berkomunikasi atau menjadi PR (Public Relations) sekolah, khususnya untuk menjalin kesepemahaman (Understanding) dan ikatan emosional (sense of belonging) yang kuatminimaldengan orang tua murid di kelas yang dia ampu. Cara instant, bisa dengan menyelenggarakan Pelatihan Komunikasi /PR dengan materi spesifik seputar dunia sekolah dan pendidikan atau penyediaan buku-buku tentang ini.
  • Penguasaan Teknologi, dengan orientasi kearsipan dan dokumentasi. Pemanfaatan teknologi sebagai alat bantu pembelajaran sudha menjadi mutlak. Beberapa produk teknologi sebaiknya dikuasai oleh setiap guru. Mulai dari penggunaan komputer dan kerabatnya, akrab dengan internet (blog, web, milis, dll), teknik fotografi, video shooting dengan kamera digital, juga alat presentasi dan audiovisual. Bila diperlukan, rancang sebuah workshop untuk guru, khusus agar mereka menguasai hal-hal tsb. Berapa hari atau sampai kapan workshop/pelatihannya ? Jawabannya adalah sampai bisa !
  • Yang agak sulit adalah menciptakan atmosfer agar guru terbiasa berpikir dinamis, benci stagnasi, kreatif dan inovatif, dan tetap kritis. Cara instant lewat pelatihan mungkin bukan solusi tapi sebagai pelejitan untuk awal bisa dicoba dengan menciptakan ajang kompetisi rutin bagi guru di sekolah. Ini menjadi rangsangan bagi mereka untuk terus berpikir dan berkarya. Jenis kompetisinya pun bisa dibuat tidak tunggal alias multigelar. Jadi, seperti ”teacher of the year”, atau anugerah lainnya : guru terkreatif, guru yang paling pesat hafalannya (tahfidz), guru paling produktif menulis, guru paling banyak membaca dan mengupasnya, dll.
    •  

  1. Perkuat Kultur Menulis di kalangan guru.

Saat bapak melarang anaknya merokok, mestinya sang bapak juga bukan perokok. Saat guru meminta murid-muridnya rajin menulis buku harian di setiap Senin, sudahkah gurunya juga gemar menulis per mingguannya ?

Kultur menulis juga perlu dibudayakan di Sekolah Alam. Selain untuk dokumentasi, tulisan juga berfungsi sebagai jejak bagi generasi setelahnya dalam mencerna sejarah. Tulisan punya kelebihan yang tidak dimiliki foto, yaitu mampu mengungkap fakta, momen dan isi hati lebih komplit dan sistematis juga lebih minim multipersepsi.

How ?

  • Membuat/menyediakan media internal seperti buletin, mading, buku tahunan, atau majalah sekolah.

Walau terlihat sepele, namun sebenarnya bila dikelola dengan baik dan konsisten, majalah dinding (mading) dapat menjadi oase bagi rasa keingintahuan. Pengalaman membuktikan bahwa tulisan baru di mading selalu ditunggu-tunggu pembacanya. Begitu juga dengan buletin, terlebih majalah, yang memuat opini, pendapat, dan suara para siswa. Kehadiran tulisan guru di media ini, dapat menambah bobot media publikasi, sekaligus menjadi patokan atau inspirasi bagi murid untuk How to Write yang baik.

Pengelolaan media internal ini, awalnya mungkin masih dominan guru. Seiring bertambahnya waktu dan kematangan anak-anak dalam menulis, akan tiba waktunya saat murid mampu memproduksi dan mengelolanya secara mandiri. Guru tak lagi dominan, namun sekedar menjadi staf ahli atau penasehat (expert board), yang tentu saja baru dihubungi jika murid mengalami kesulitan. Siswa senior akan menjadi mentor bagi siswa yunior. Kemandirian ini mutlak diperlukan, agar tangan anak-anak dan juga guru otomatis menulis jika ada sesuatu yang memang bagus untuk ditulis tanpa harus disuruh atau ditekan. Ini yang disebut dengan menulis sebagai kebutuhan, bukan sebagai beban.

  • Kultur menulis, dapat pula dibangkitkan melalui sebuah sistem tenggat, yang disebut dengan deadline. Secara bergiliran, guru dapat di deadline untuk memasukkan tulisannya ke media publik minimal satu tulisan per bulan. Bulan ini si guru fulan, bulan depannya si guru fulanah.

  • Dan untuk dapat menghasilkan sebuah tulisan yang layak muat, tentu saja membutuhkan perjuangan. Kuncinya hanya satu, yaitu latihan dan latihan. Mulai dari menulis yang ‘kecil’ seperti buku harian, agenda, binder atau harian maya (blog) hingga ke jenis tulisan artikel opini/wacana atau tulisan panjang seperti buku. Medianya pun bisa bertahap, mulai dari mading kelas, mading sekolah, buletin, kolom di blog/website hingga media massa publik seperti Koran dan majalah.

Bila dibutuhkan, kita dapat menyisihkan waktu untuk mengundang rekan-rekan dari komunitas penulis atau wartawan dalam bingkai Pelatihan Penulisan dan Jurnalistik, untuk menambah wawasan globalnya dan membekali beberapa pengetahuan teknis tentang menulis.

Guru harus bisa menulis. Terlebih, menulis pada dasarnya dapat dilakukan oleh setiap orang, tanpa pandang bulu dia punya kecerdasan linguistik atau tidak. Anugerah kecerdasan linguistik yang ada pada diri seseorang juga tak akan berguna selama dia tidak pernah menggunakannya. Sama seperti pisau yang jarang dipakai membelah, akan tumpul juga lama-lama, berkarat. Sementara seonggok besi pada akhirnya bisa saja menjadi pisau, sebab senantiasa terasah tak kenal putus asa. Intinya, penulis itu mirip da’i. Jika ada kalimat bijak : “jadilah da’i apapun profesimu”, maka dapat juga dikatakan : “jadilah penulis apapun profesimu”.

PERANGKAT KERAS

Peningkatan hardware atau infrastruktur adalah sebuah kesemestian saat pada waktu yang sama kita juga membangun software. Namun membangun infrastruktur, yang berwujud konkrit, bisa dikatakan tidak sesulit bila dibandingkan dengan membangun mentalitas yang sifatnya abstrak. Bicara infrastruktur, adalah bicara political will alias niat. Ada niat ada jalan, ada kemauan hambatan pun bukan halangan.

1. Estetika

Penguatan karakter Sekolah Alam dalam kacamata infrastruktur berkisar pada estetika atau penjagaan lingkungan dengan taste sekolah alam. Lapangan yang hijau, sejuk, bersih, kebun yang terawat, tanaman organik, sampah yang terklasifikasi, tanah resapan, beragam peliharaan hayati, dan tampilan fisik gedung yang berkarakter natural adalah unsur diferensiasi yang membuat sekolah alam senantiasa dicari.

Penambahan saung, penghijauan lapangan, pembuatan koridor beratap tanaman anggur, obor/lampu taman, gemericik air, kafe kebun, ruang baca outdoor, outbound permanen, adalah sedikit usulan agenda pembangunan, yang membutuhkan kerja bersama seluruh unsur sekolah.

2. Buku

Buku adalah jantung pengetahuan. Koleksi buku perpustakaan kita yang sekarang ini sudah cukup bagus, sangat kontemporer. Namun, ada beberapa buku yang sebaiknya ditambah itemnya, yaitu buku fiksi remaja islami dan buku chicken soup for the soul untuk guru. Buku-buku yang mengupas multikecerdasan a la Gardner dan Thomas Amstrong berikut variansnya, pendidikan yang mebebaskan ala Tetsuko Kuroyanagi,sekolah gratis ala Utomo Dananjaya, atau sekolah alam itu sendiri yang sudah banyak diluncurkan, adalah sedikit saja contoh dari sekian buku bagus yang perlu dicerna guru.

Buku lainnya adalah, biografi orang-orang besar. Pemikiran dan Pengalaman heroik mereka adalah sumber inspirasi bagi pencetakan sejarah masa kini dan masa mendatang. Juga buku-buku petualangan legendaris, seperti karya Karl May dengan Winnetou dan Indian Apache-nya. Juga buku karya kesusastraan Indonesia seperti Si Jamin dan Si Johan, kisah sedih namun sarat makna kakak-adik yang menapaki kehidupan tanpa didampingi kedua orangtuanya.

Sekolah perlu menyediakannya karena tidak semua guru mampu menjadikan buku sebagai prioritas utama agenda belanja rumah tangga.

3. Penerbitan Mandiri dan Ruang Galeri.

Kultur menulis membutuhkan perangkat ini. Papan mading yang didesain khusus agar karya didalamnya tidak mudah hilang atau rusak, namun tidak pula menyulitkan ketika ada tulisan yang hendak dipasang. Jumlahnya paling tidak dua buah, satu di pasang di sekolah bagian depan, dan satunya lagi untuk bagian belakang. Sementara, perangkat komputer sebagai media produksi insyaallah sudah cukup baik ,walau proses pencetakan masih harus di sub-order keluar.

Hampir mirip dengan pamer karya bidang linguistik. Sebuah ruang galeri untuk pamer karya anak-anak bidang lainnya juga menarik untuk didirikan. Tidak perlu harus berbahan bata dan semen, dia bisa berbahan bambu/kayu dan kaca/gedek sebagai dindingnya, atau bisa pemanfaatan ulang bus yang sudah rusak, peti kemas, atau apa saja.

4. Alat Dokumentasi.

Perangkat ini menjadi penting. Sedikit demi sedikit, kesadaran untuk mendokumentasikan kegiatan pembelajaran di sekolah mulai tumbuh. Dengan jumlah kelas yang semakin banyak, maka alat dokumentasi dan peripheralnya, khususnya fotografi digital, sebaiknya tidak hanya satu. Kondisi ideal adalah satu kelas satu kamera digital. Jadi kelas yang bersangkutan punya keleluasaan untuk mengabadikan momen apa saja dan kapan saja.

Setiap tahun sekali di awal penerimaan murid baru, sekolah dapat menggelar pameran foto-foto terbaik sebagai salah satu materi Open House.

5. Internet Goes To School (pinjem istilah Telkom nih)

Teknologi memang selalu berwajah ganda, bermanfaat namun bisa juga bermudharat. Di tangan orang yang tepat, internet bisa menjadi alat belajar yang dahsyat. Salah satu rahasia, mengapa barat begitu masif menginvasi dan nampak percaya diri, karena mereka menguasai informasi dan punya daya eksplorasi yang tinggi. Dalam ensiklopedi encharta buatan Bill Gates corp, profil Indonesia ditayangkan begitu kompleksnya. Bisa dikatakan, mereka mengenal Indonesia lebih baik daripada orang Indonesianya sendiri.

Bahkan melalui Google Earth (kita sudah mencobanya), koordinat atau keberadaan Sekolah Alam bisa diketahui bila kita memfokuskan pencarian di Indonesia, lalu Semarang, lalu Tembalang, dan kemudian Meteseh. Sayangnya, disana kita disebut dengan SD Ar-Ridho, bukan Sekolah Alam.

Dengan menyiapkan sebuah sistem proteksi yang baik, kita bisa membuat sekolah dalam kondisi ready to online. Namun memang, kita mengalami kendala geografis karena berada di lembah dan dikepung dataran tinggi, sehingga sekalipun harus memasang antena (untuk non fixline), itu harus dilakukan dengan bantuan menara besi atau pohon yang tinggi.

LAIN-LAIN

  1. Tentang Makan Siang Bersama

Salah satu momen mempererat hubungan emosional antara guru dengan murid secara informal sebenarnya adalah saat makan siang. Cara ini mirip dengan komunikasi ala meja makan antara orang tua dengan anak di rumah. Persoalan, keluhan, curhat, dan segala macamnya dapat bermula di sini dan menemukan pula penyelesaiannya di sini.

Saat ini, boleh dikata kita belum menggunakan kesempatan ini sebagai media penanaman nilai. Saat waktu makan siang tiba, murid terbagi menjadi dua kubu besar yaitu, mereka yang ikut katering dan mereka yang membawa sendiri makanannya dari rumah. Dan kemudian, mereka makan dimana saja mereka suka, dengan teman suka-suka di sebelahnya, dan doa sebelum makan boleh jadi lupa.

Saya membayangkan, seandainya saja kita punya budaya makan siang bersama. Berkumpul menjadi satu, dipimpin doanya, guru-guru kemudian menyatu dikerumunan itu, saling bertukar lauk dan sayur, dan saling bercerita tentang apa saja. Tentunya, dengan catatan, tetap memperhatikan adab makan, bicara saat mulut kosong dan tidak sedang mengunyah.

  1. Tentang Adab di Masjid

Jujur, jihad kita kurang total di sini. Boleh dikata, anak-anak belum muncul rasa empatiknya terhadap orang yang hendak beribadah di masjid. Kegaduhan itu menjadi PR kita bersama. Kadang hati begitu sedih, saat takbir tanda mulai sholat telah dikumandangkan, masih ada anak-anak yang dorong sana dorong sini, cekikikan ketawa-ketiwi, batuk yang dibuat-buat, gemuruh kaki-kaki berlarian, teriak-teriakan, dsb. Bisakah kita menanamkan padanya, saat tangan para jemaah telah bersedekap di depan dada, bisakah mereka sedikit menahan diri, memberikan kesempatan kepada orang lain untuk mendirikan sholat dengan sempurna.

  1. Tentang Menerima Tamu

Sudahkah kita menjadi tuan rumah yang baik ? Itu pertanyaan kuncinya. Beragam tamu datang ke sekolah, mulai dari orangtua murid , calon orang tua murid, guru sekolah lain, pengawas, hingga sales, mahasiswa, wartawan, dan pengunjung yang sekedar ingin melihat-lihat. Namun, ada satu yang tak pernah kita telusuri coba cari tahu, yaitu bagaimana kesan mereka terhadap layanan kita sebagai tuan rumah ?

Telahkah ada pelayanan standar, tamu yang datang, disambut ramah oleh siapapun juga yang bertemu dengannya, diterima pihak yang berkompeten, disuguhi minuman ringan sekedarnya seperti air putih dalam kemasan misalnya. Dan yang terpenting, adalah bagaimana kelengkapan atau kesiapan kita terhadap kebutuhan mereka. Apa yang harus selalu ada ? kurikulumkah, profil sekolahkah, fotokah, souvenirkah. Atau kah kita masih harus cari sana cari sini telpon sana telpon sini, untuk menghadapi sang tamu.

Closing word

Kemarin, para murid sudah beropini, sekarang adalah guru. Itu berarti kita tinggal menunggu opini dari perspektif orang tua.

Mudah-mudahan ini tak sekedar just an opinion, tapi menjadi bahan diskusi dan pembicaraan untuk melakukan perbaikan-perbaikan. Siapa yang bakal melakukannya atau menindaklanjutinya ? Ya, kita semua, mana yang bisa kita lakukan… kita lakukan.

Sebuah opini atau masukan memang harus ditindaklanjuti. Sebab itu pertanda perhatian. Bila banyak opini dan saran tak tertanggapi atau bak gayung tak bersambut, perlahan namun pasti kultur urun rembug atau berbagi pendapat akan menjadi sirna, sebab merasa tiada guna. Kita berusaha keras menghindarinya, sebab itu adalah pertanda pula awal stagnasi, sementara stagnasi adalah awal kehancuran…

Ayo bekerja !

doni riadi

 

Ditulis oleh :
Doni Riadi
Guru Komputer,
Ayah 1 orang anak

 

 

 

 

 

7 comments on “OPINI GURU : Making Our School To be Better (2)

  1. aku baca…
    ku fahami
    dan aku hanya bisa diam…
    (mudah2an saung itu akan masih tegak berdiri)
    ……………….
    orang tua hanya punya tangan yang kecil
    guru2 hanya punya tangan yang kecil
    murid2 hanya punya tangan yang kecil
    orang2 yayasan hanya punya tangan yang kecil
    tapi ketika kita bersama….
    kecil itu menjadi kekuatan yang luar biasa

  2. Dalam benak…ku banyak sekali yang ingin aku katakan…
    tapi nyatanya tidak mampu
    Dalam alam pikirku banyak yang ingin kukerjakan untuk membantu…
    tapi entah kapan… rasanya berat sekali…
    Konkrit Usul yg bisa segera direalisasikan
    dan harus segera dimulai….Bikin Bulletin dan Mading
    Ini Ikhtiar kenapa tidak dicoba

  3. Assalamu’alaikum Wr.Wb,

    Saya orangtua murid, anak saya Risya di kelas 1b SD dan Dani di TK B. Sebagai orangtua, saya puas dengan pendidikan anak saya di SA Arridho karena hal-hal berikut:
    – tidak hanya menekankan pengembangan faktor IQ saja, tapi juga EQ dan SQ
    – guru dedikatif, idealis (tidak matre), dan penuh kelembutan (sekolah ini saya sebut “sekolah tanpa amarah” , dan sering saya pamerkan pada teman2 dari milis lain).
    – guru memperhatikan murid secara individual dan memberikan treatment sesuai karakteristik individual siswa
    – walaupun fasilitas fisik sekolah minim, tapi pendidikan secara keseluruhan mengikuti trend pendidikan masa kini dengan pendekatan psikologi perkembangan anak terkini.

    Mimpi saya tentang sekolah ini:
    Andai saja sekolah ini memiliki fasilitas fisik yang bagus, berorientasi ICT, dan bilingual (dengan penggunaan Bhs Inggris yang intensif) pula….. maka sekolah ini akan menjadi “the best school”. Tapi, ini akan butuh waktu dan biaya besar.

    Saran saya yang mudah dilaksanakan dalam jangka dekat:
    – Beri anak2 perlindungan secukupnya dari hujan dan angin agar mereka tidak mudah masuk angin di musim hujan (misal, kelas yang terbuka diberi kerai agar air hujan tidak tampias).

    – Tanah2 becek di sekitar gedung kelas dan kantor dipaving (jalan menuju kelas dan kantor sebisa mungkin tidak ada yang bertanah becek) agar tidak kumuh.
    Terimakasih atas perhatiannya.

    Wassalamu’alaikum Wr Wb,
    Issy

  4. Ini baru namanya bu Issy, saya mendukung gagasan tersebut. Perlu kita ketahui saudara-saudaraku bahwa beliau ini adalah pakarnya English, jadi pasti beliau mau membantu untuk menuangkan konsep, ide atau yang lain-lainnya. Bukankah begitu bu Issy?

    Ya, salah satu dimensi yang mendukung daya saing dalam live-skill adalah kemampuan multi language, kiranya sekolah sudah perlu mulai mengembangkan hal ini, bahasa lainnya mungkin Lughatu ‘Arobiyah. Tentu memerlukan effort yang tidak sedikit. Namun kalau kita mau menggali potensi orang tua mudrid ArRidho yang canggih-canggih itu, yakin ini bisa direalisasi.

    Dukungan kita semua sebagai ortu siswa ArRidho sangat diperlukan, AYOO…..

    Regards,
    jumala

  5. MAKING OUR SCHOOL TO BE BETTER

    Kalau kita mengatakan sesuatu/benda itu keadaannya lebih baik berarti kita sudah membandingkan benda itu dengan benda lain yang sejenis atau membandingkan keadaan benda itu sebelumnya dengan keadaan terkini. Pendek kata, membuat sesuatu menjadi lebih baik berarti harus ada bandingannya. Demikian juga dengan “making our school to be better” yang diinginkan oleh guru dan murid-murid SA Ar Ridho. Banyak keinginan dari guru dan murid yang ditulis dan belum terwujud. Seandainya keinginan itu terwujud, mereka bisa mengatakan sekolahku kini menjadi lebih baik dari keadaan sebelumnya. Tapi keadaan lebih baik itu hanya bisa dilihat dari satu sisi saja, yaitu dari pandangan guru atau murid yang mempunyai keinginan itu. Sekarang bagaimana kalau keberhasilan (keadaan lebih baik) dilihat dari sudut pandang organisasi.

    Organisasi (SA Ar Ridho) didirikan pasti memiliki rencana. Rencana berarti sesuatu yang ingin dicapai selama kurun waktu tertentu ( 1 s.d. 5 tahun) dengan memperhitungkan potensi, peluang, dan kendala yang ada yang mungkin timbul. Untuk mendukung rencana itu bisa terwujud mestinya organisasi telah menetapkan Visi, Misi, Tujuan/Sasaran, dan Program. Visi adalah cara pandang jauh ke depan kemana organisasi harus dibawa agar dapat eksis, antisipatif dan inovatif. Misi adalah suatu yang harus dilaksanakan oleh organisasi agar tujuan organisasi dapat terlaksana dan berhasil dengan baik. Tujuan merupakan penjabaran/ implementasi dari pernyataan misi adalah sesuatu yang akan dicapai pada jangka waktu tertentu (1 s.d. 5 tahun). Sasaran adalah penjabaran dari tujuan, yaitu sesuatu yang akan dicapai dalam jangka waktu tahunan, semesteran, triwulanan atau bulanan. Sasaran diusahakan dalam bentuk kuantitatif sehingga dapat diukur.

    Bagaimana dengan SA Ar Ridho apakah telah memiliki visi dan misi? Tanpa visi yang kuat dan berani dapat dikatakan organisasi tidak dapat mengatur irama operasi kegiatannya. Dengan misi, organisasi dapat mengarahkan operasionalisasinya sehingga dapat terus eksis dan mengikuti irama perubahan zaman. Kalau SA Ar Ridho telah memiliki Visi dan Misi, keinginan guru dan murid tentunya telah terakomodasi sehingga tinggal mewujudkannya sesuai jadwal yang telah ditetapkan.

    Pelaksanaan/terwujudnya visi dan misi harus termonitor dan tercatat serta dievaluasi. Kalau sudah demikian SA Ar Ridho akan menjadi accountable. Insya Allah kalau SA Ar Ridho telah menjalankan Visi dan Misinya Akreditasi A yang disandangnya terus dapat dipertahankan dan bukan hanya “our shool to be better” tapi “our shool is the best” . Selamat bekerja kepada guru-guru SA Ar Ridho impian anda impian orang tua murid juga. Amin.

    Muji Sarwono.

    Mohon kritik, saran dan tanggapannya.

  6. Ass. Wr.Wb.

    Salah satu keunggulan yang dimiliki sekolah alam adalah adanya program out bond. Dalam kacamata marketing disebut diferensiasi, suatu nilai lebih dibanding produk lain yang sejenis. Sekolah-sekolah lain juga punya diferensiasi masing-masing, misalnya bidang IT, bahasa dan lain-lain.Agar eksistensi sekolah alam semakin diakui mau tidak mau kita harus memperkuat diferensiasi yaitu out bond. Caranya, alokasikan dana untuk melengkapi peralatan outbond, siapkan lahan khusus untuk outbond dan training bagi instruktur. Kita harus habis-habisan memperbaiki dan memoles program outbond agar layak dijual, sebagai salah satu daya tarik untuk menarik calon-calon siswa baru. Bahkan lahan bisnis baru pun terbuka, misalnya warung makan/cafe untuk peserta outbond.
    Wallohu ‘alam.

  7. abi omie yang saya hormati..

    saya yakin bahwa ide dan langkah dari abi omi adalah sesuatu yang di perlukan sekolah anak2 kita. saya juga “sependapat sekali”… saya membayangkan disitu bisa kita baca pikiran anak2 kita… ibu dan bapak gurunya… mungkin sebagian orang tua murid.. atau siapapun. dan biar saja anak berekspresi disitu…

    kadang…
    kaki sudah melangkah, tapi tak sampai jua
    kata sudah terucapkan, tapi tak termaksudkan
    fikiran sudah terkonsepkan, tapi tak tergoreskan
    mudah2an kesabaran dan keikhlasan…
    tak meninggalkan.
    karena harapan harus terpancangkan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s