Dia Suka Tampil Keren

HAlaman Sekolah AlamHAMPIR lupa, ceritaku tentang mencari sekolah untuk Biru belum selesai. Oke, kulanjutkan. Akhirnya (lho, kok malah sudah akhir?), diantar Syamsul, minggu kedua Juni 2006 aku anjangsana ke Sekolah Alam Ar-Ridho. Maksud hati bertemu Kepala Sekolah, apa daya… “Bu Mia sedang ke Diknas,” kata salah seorang guru.

Dialah yang kemudian menerangkan beberapa hal. Dari cara belajar di Ar-Ridho hingga betapa penting memberikan “kebebasan kreatif dalam pola bermain” kepada anak-anak, agar mereka dapat menyerap ilmu dengan riang gembira, bukan terpaksa, apalagi terus-menerus di bawah tekanan (guru dan orang tua).

Wow! Aku terpesona. Apalagi ketika aku sebut novel Toto-Chan, si Gadis Kecil di Tepi Jendela karya Tetsuko Kuroyanagi (PT Pantja Simpati, 1985), dia berkata, “Saya juga sudah baca. Bagus sekali.”

Saat berkeliling sekolah, aku bertemu Pak Nurul, ketua yayasan, yang sedang asyik menyiram tanaman. Kami berkenalan, ngobrol, dan bahkan berdiskusi kecil tentang bagaimana mesti “memetakan” aneka potensi anak. “Setiap anak itu unik, cerdas. Tidak seragam. Karena itu, kita tidak boleh mencetak mereka jadi sesuatu yang sama. Kita hanya memfasilitasi agar mereka berkembang sesuai dengan potensi dan kecenderungan masing-masing,” katanya.

Seperti “perjuangan” dalam bentuk dan bidang apa pun, Ar-Ridho juga bertemu alangan. “Memberikan pengertian kepada para orang tua bahwa beginilah proses belajar mengajar yang menyenangkan dan bermanfaat bagi anak-anak kita saja susahnya bukan main, sampai-sampai kemarin kami mengundang Kak Seto,” ungkapnya.

“Saya sebaliknya, Pak…” selaku. “Saya paham dan setuju konsep pembelajaran seperti itu. Saya bahkan pernah bercita-ceita mendirikan sekolah seperti ini. Murid tak perlu pakai seragam, sekolah seperti dolan, tas tidak berisi banyak buku pelajaran. Saya termasuk orang tua yang bingung mencari sekolah untuk anak saya, karena lembaga sekolah seperti ini masih langka. Lha kalau sekarang cocok, masak ditolak karena tidak tahu pendaftaran sudah dibuka dan ditutup?”

Pak Nurul tersenyum, tahu ke mana arah pertanyaan retorisku itu. “Coba saja ketemu Kepala Sekolah,” katanya. “Dia istri saya…”

Sebelum pulang, aku memotret “beberapa sudut” sekolah alam untuk pelengkap laporanku pada Biru. Sepulang sekolah (TK) dia langsung bertanya, “Gimana, Pak? Jadi lihat-lihat dan cari sekolah tadi? Udah ketemu? Bagus nggak?”

“Udah dan bagus. Sekolah Alam Ar-Ridho namanya. Nggak pakai seragam, boleh pakai kaos dan celana jins, dan Sabtu-Minggu libur. Mau?”

“Mau banget!!!!” sahut Biru dengan mata berbinar-binar. Asal tahu, Biru paling suka pakai celana jins (panjang). Dia sangat suka tampil keren. Dan setelah melihat foto-foto sekolah itu, dia bilang, “Sebelum daftar, ajak aku ke sana. Aku mau lihat sendiri, bagus nggak…”
source : www.siluetbulanluka.blogspot.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s