jump to navigation

Kenapa Harus Lari ? Agustus 20, 2008

Posted by sekolahalamarridho in Problema.
trackback

Pengantar
Hari ini (20/8/08), Blog SAA ditambah satu kategori baru yang berjudul PROBLEMA.
Semangat yang hendak disampaikan tentu saja bukan agar kita berkubang dalam masalah. Tapi, agar dengan problema yang ada semakin membuat kita dewasa dan berdaya. Seperti janji Allah, dibalik kesulitan selalu ada kemudahan.

Juga, barangkali cara SAA menyelesaikan problema yang ada, bisa menjadi inspirasi bagi pihak-pihak yang mengalami problema serupa. Atau sebaliknya, SAA mendapatkan banyak masukan dari para pengunjung Blog SAA yang mengalami problema itu lebih dulu. Jadi, semangatnya adalah solusi konstruktif!

Berikut posting pertama PROBLEMA :
______________________________

“Duarrr…!!” Suara keras itu mengagetkan guru-guru yang yang sedang berada di lab. komputer. Sepertinya jendela kaca lab. komputer baru saja terkena benda keras. Dan, kemungkinan besar itu adalah bola. Sebab tidak jauh dari situ memang ada lapangan kecil yang sering dipakai anak-anak bermain bola.

Refleks, saya ke luar dari lab. untuk melihat apa gerangan yang terjadi. Seperti yang saya duga, tadi itu memang bola, karena di lapangan ada anak-anak kelas 7 nampak ngos-ngosan tanda barusan sedang bermain bola.

Belum sempat saya bertanya, seorang dari mereka langsung bilang, “Bukan saya pak!” sambil menunjuk ke suatu arah. Lalu, dari arah yang ditunjukknya, datang anak lainnya yang juga menuding ke suatu tempat, sambil memberitahu bahwa ada anak yang lari bersembunyi setelah menendang bola terlalu keras hingga mengenai kaca jendela.

Sepertinya sepele. Tapi kejadian hari itu cukup membuat saya bersedih. Pertanyaan penting yang langsung hinggap di kepala adalah, kenapa dia harus lari ? Apakah dengan lari akan membuatnya terbebas dari tanggungjawab ? Ataukah justru tanggungjawab itulah yang ia ingin hindari. atau menghindar dari hukuman ?

Seingat kami para guru, kami tidak pernah memberi hukuman atas hal-hal yang sepeti ini. Paling banter adalah kami mengingatkan atau menasehati agar lebih berhati-hati. Jadi, apa yang harus dihindari ? dan kenapa harus lari ?

Meskipun pada akhirnya si anak muncul dan mengakui perbuatannya, namun respon refleksnya dengan berlari sehabis berbuat, membuat saya berkeyakinan bahwa jalan yang saya tempuh sebagai guru dan juga kolega guru yang lainnya nampaknya masih panjang, untuk mencetak remaja Islam yang betul-betul berkarakter ’layak dibanggakan’.

Sebersit tekad berkelebat, bahwa kami, para guru, akan mengenalkan lebih intens apa yang dimaksud dengan sikap kesatria dan sikap mau bertanggung jawab.

Gambar di atas adalah saat anak-anak kelas 5 SD bermain bola basket mini, persisi di depan lab. Komputer, dan juga memiliki potensi yang sama lahirnya ’problema’ seperti yang telah diuraikan.

(note, peristiwa ini sudah agak lama terjadi, tetapi masih tercatat di buku harian admin. Kondisi terkini : posisi lab telah pindah ke ruang lain, dan ring basket telah dilepas, dan akan dipasang lagi…tapi hingga waktu yang belum ditentukan ^_^)

(update : 09/09/2008
ring basket sudah terpasang kembali, di lapangan belakang)

Komentar»

1. sulchan - Agustus 20, 2008

assalamu’alaikum,

itulah namanya anak pak, mestinya kalau “hanya” bermain basket ball, tidak akan menjadikan bola melesat begitu keras, kecuali bola itu di tendang, seingat saya bermain bola basket tidak ditendang, hanya untuk menyadarkan anak² agar tidak menendang bola di lapangan basket, masih perlu kesabaran yang sangat sabar……(biar tetap di sayang Allah Swt, bukankah orang yg sabar selalu disayang Allah Swt).

wassalam

2. pakdoni - Agustus 20, 2008

amin pak..trima kasih untuk doanya…^_^

3. bapakethufail - Agustus 21, 2008

bukan kah dengan kejadian itu Allah memberi pelajaran “sabar” buat kita pak ???? dan mungkin ” lari ” adalah salah satu bentuk ekspresi bukan melepas tanggung jawab……..>>>> yang banyak di lakukan di negeri ini

4. ahmad - Agustus 21, 2008

ah, ikutann komentar..
sepertinya tidak hanya anak kita saja yang demikian.
banyak juga orang dewasa seperti itu…
kerapkali tidak berani mengakui kesalahan yang baru saja diperbuat.
semoga kita tidak demikian. amien….

5. ummi farin - Agustus 21, 2008

sebagai orang tua, Insya Allah saya akan mengajarkan arti tanggung jawab juga di rumah.

6. Moh. Arif Setyabudi - Agustus 21, 2008

Sungguh indah nian jika generasi muda dan anak-anak kita paham dan secara reflek mempraktekkan nilai-nilai kejujuran dan tanggung jawab. Generasi yg insyaallah akan mewarnai kehidupan bangsa ini kelak. Kalau jadi wirausahawan ya jadilah yg jujur dan tidak membuka peluang penyogokan, suap dan bersaing secara fair. Kalau jadi pegawai rendahan ya jadilah pegawai yang semangat dan ikhlas dan kalau jadi pejabat, anggota DPR, politikus, dll jadilah yang bisa menjadi panutan, tidak malah menjadi “tontonan” seperti saat ini. Naudzubillah….

7. mujis - Agustus 21, 2008

lari itu karena refleks, sangat manusiawi – sebagai wujud rasa takut dimarahi. kalau anak itu kemudian muncul dan mengakui kesalahannya serta berani bertanggungjawab saya kira itu adalah sikap yang gentle.

8. trendy - Agustus 21, 2008

saya waktu SD juga pernah gitu kok!
tapi waktu merubahnya sekarang!
wekekekek!

9. masenchipz - Agustus 21, 2008

klo guru gw malah galak…

10. nuriyant - Agustus 22, 2008

ya… semua adalah proses. tapi kalo cuman dibiarin saja…
ya mungkiin ada yang berubah.
tapi ada juga yang tidak.
yang jelas kita harus belajra tanggung jwab dan mencoba untuk memberi contaoh yang lain.

11. ariefdj™ - Agustus 22, 2008

..selain masalah tanggung jawab, juga kudu ditanamkan masalah kebersamaan, untuk menghindari anak jadi ‘penjilat’ kelak kemudian hari.. dalam kasus di-atas, nunjukin ‘pelaku sebenarnya’ bukanlah suatu hal yg bagus..

12. bayu200687 - Agustus 26, 2008

kenapa harus lari? mungkin karena ada rasa bersalah. karena dari dlu kita diajari tentang reward and punishment
kenapa mesti takut bertanggung jawab? mungkin karena konsekuensi dari tanggung jawab itu terlalu besar. dari dulu kita diajari bahwa tanggung jawab itu sikap ksatria (baja hitam). terlalu berat untuk menyelamatkan bumi dari tangan2 jahat seorang diri, apalagi bagi anak kecil.
tentang kebersamaan? ada cerita menarik, dlu pernah ada kasus mirip cerita di atas. dengan mengandalkan kebersamaan, akhirnya malah sepakat ga usah mengaku. tanya kenapa…???

salam kenal. yang jelas saya salut dengan sekolah2 macam ini (baca:berpikir out of the box)

13. Teguh Imanz - Agustus 26, 2008

Jadi inget joke tentang si Ucok. Suatu hari Ucok ngantuk berat di kelas sehingga gak denger ketika ditanya gurunya: “siapa pencipta lagu indonesia raya?” Dengan gelagapan, dengan mentalitas untuk menghindari tanggung jawab, Ucok menjawab lantang: “bukan saya, Pak”…
PR besar buat semua komponen bangsa agar anak-anak kita mempunyai karakter bertanggung jawab apapun resikonya. Mari kita mulai dari rumah, kita ajari dan kita berikan keteladanan agar anak-anak kita belajar bertanggung jawab.

14. Lari dari Tanggung Jawab « Customs6th - Agustus 27, 2008

[...] bagus di sebuah blog sekolah (Sekolah Alam Arridho) untuk bahan renungan dan pelajaran. Judulnya “Kenapa Harus Lari ?” sebuah judul yang awalnya terbaca sangat sederhana namun isi dan muatannya luar [...]

15. Bli Ucen - Agustus 27, 2008

Cara mendidik anak untuk jujur dan bertanggungjawab yang terbaik menurut saya adalah dengan keteladanan, terutama dari orang tua dan guru. Ada seorang anak 4 th yang dibohongi orang tuanya sekali dan dia balas berbohong lebih dari satu kali, bahkan berkali-kali dengan alasan pernah dibohongi orangtuanya.

16. shary - Agustus 28, 2008

waduh..jadi ‘takut komentar’ yang berat2.hikmah buat semua, anak, guru dan ortu.

17. sekolahalamarridho - Agustus 28, 2008

yup…. hikmah memang selalu terserak…kita yang kudu ngumpulinnya…
btw, klo ada ortu, guru ato bahkan murid, yang mo nulis kategori problema, kayanya boleh2 ajah tuh…admin dengan senang hati menerimanya.
misalnya soal : jajan, dst…

thx 4 all atas komennya…