Ekspedisi Gunung Ungaran 2007 Juni 29, 2007
Posted by sekolahalamarridho in Cara Belajar.trackback

“Nggak papa, malah nggak dingin, to…” , ujar Ust. Fadholi, ayahnya Izzudin (kleas VI) memberi dukungan sesaat setelah mengantar Izuddin ke sekolah. Sore itu, langit mendadak gelap dan gerimis sempat pula turun. Terlihat ke arah Ungaran, langit mengabu tebal.
Sore itu (20/6), 14 orang yang tergabung dalam tim Eskpedisi Gunung Ungaran Sekolah Alam sedang bersiap-siap untuk berangkat (nama-namanya ada di posting kronologis). Pendakian ini, disebut ekspedisi (walau mini) sebab telah disiapkan jauh hari sebelumnya. Pak Doni selaku pemimpin tim telah memberikan beberapa materi Mounteneering jauh hari sebelumnya. Surat izin orang tua sempat pula diedarkan, dan yang terpenting, persiapan dokumentasi foto dan audiovisual juga telah disiapkan.
Dan benar saja, tepat saat mobil carteran berada tepat di kota ungaran, hujan turun dengan derasnya. Awal yang istimewa ini, tak urung sempat membuat deg-degan murid-murid yang notabene masih anak-anak. ”Aku sempat deg-degan lho pak” begitu kata Ibrohim (kelas VII) membuka rahasia hatinya saat istirahat makan siang tak lama setelah turun dari puncak gunung keesokan harinya.
Membayangkan seperti apa kondisinya berada di gunung sambil kehujanan dan kedinginan memang bukan pengalaman yang menyenangkan. Namun alhamdulillah, mungkin juga karena ketulusan doa sebelum berangkat, yang menyerahkan sepenuhnya keselamatan diri kepada Allah SWT, hujan ternyata berhenti tepat saat tim menginjakkan kaki di Pasar Jimbaran, Bandungan. Dari pasar inilah, pendakian akan dimulai.
Ada banyak jalur menuju puncak Ungaran. Kali ini, tim sengaja dipilihkan jalur yang biasanya digunakan oleh Pecinta Alam untuk mendaki. Tingkat kesulitannya, termasuk berkategori sedang. Setingkat lebih sulit dibanding jika melalui Jalur Promasan, dimana kita bisa naik kendaraan hingga ke desa Prumasan dan berjalan ’cuma’ kira-kira dua-tiga jam untuk mencapai puncak.
Keikutsertaan Didin, yang masih duduk di kelas V dan berbadan mungil ini, juga menjadi salah satu alasan, khususnya untuk mengukur mampukah jalur Jimbaran ini dilalui oleh anak yang masih berusia 9-10 tahun. Tanda tangan Pak Lathu, ayahnya Didin dan Yusuf (kelas VI), sebagai pertanda restu, menguatkan niatan kami untuk membawa mereka ke puncak gunung yang tingginya sekitar 2.050 meter di atas permukaan laut. Atau sekitar 1 km lebih rendah dari gunung Merbabu, dan setengahnya dari Puncak Jaya Wijaya.
Dari Pasar Jimbaran sebenarnya tersedia mobil omprengan menuju dusun Kluwihan, dusun teratas di Desa Sidomukti yang biasanya digunakan sebagai posko pendaftaran. Namun kali ini, tim juga diarahkan untuk berjalan kaki saja. Mencoba menikmati perjuangan tapak demi tapak suasana kaki gunung Ungaran.
Sampai di sini, anak-anak masih tertawa riang. Dengan bobot tas punggung yang tak lebih dari sepertiga bobot tubuh mereka (sekitar 10 kg), anak-anak masih mampu berlari-larian saling mendahului dijalan yang mendaki. Bobot terberat kali ini dibawa oleh Dita (kelas VII). Carrier-nya penuh dengan barang. Fisiknya yang besar, juga semangatnya, membuat ia ingin mendaki dengan peralatan lengkap. Bobot carrier-nya setara dengan bobot dua tas punggung teman-temannya.
Ekspedisi Gunung Ungaran ini tak semata pendakian ’penaklukan’. Paling tidak ada tiga tujuan yang hendak dicapai. Pertama adalah Mountain Clean-Up, yaitu membersihkan puncak Ungaran dari sampah anorganik (plastik),dari sisi kepekaan lingkungannya. Yang kedua, mengenali vegetasi (tetumbuhan) khas pegunungan, untuk sisi ilmiahnya. Dan ketiga, adalah untuk menambah kecakapan diri, dari sisi emosional dan spiritualnya, seperti tak mudah mengeluh, kebersamaan, kehambaan, dsb.
Tiga jam berjalan menanjak diselingi sholat Maghrib dan Isya di salah satu masjid desa, tim sampai di basecamp Mawar, yang menjadi tempat peristirahatan terakhir sebelum pendakian. Posisinya di atas dusun Kluwihan. Sayangnya, karena bukan malam Minggu, basecamp itu rupanya terkunci dan tidak bisa digunakan sebagai tempat istirahat.
Namun, alhamdulillah, pada akhirnya tim dapat beristirahat setelah diterima dengan baik oleh Mbah Rohadi, penghuni rumah kecil di sekitaran basecamp yang jaraknya sekitar 200-an meter. Mbah Rohadi rupanya berasal dari Ngablak, Magelang, bersama istrinya, beliau baru tiga tahun berada disana, bekerja mengolah lahan milik salah satu BUMN di bidang Perkebunan. Kaki Ungaran ternyata sudah banyak berubah. Lebih terkelola dibanding tiga-empat tahun yang lalu.
Tanah vulkanik membuat tanaman tumbuh subur. Kita dapat menjumpai tembakau, kubis, sawi, pakcoy, wortel, cabe, juga mawar, dan segala jenis sayur mayur ditanam di kaki gunung Ungaran. Sayur-mayur ini kemudian diangkut ke kota pada malam atau dinihari. Di Semarang pasar dinihari ini dapat kita temui di perempatan Peterongan, dan menghilang saat pagi menjelang. Selain itu, memasuki kawasan basecamp telah dibangun gapura Selamat Datang di Kawasan Wisata Alam. Namun sekali lagi sayang seribu sayang, tangan-tangan tak bertanggungjawab telah mebuat gapura itu menjadi menyedihkan, karena penuh coret-coretan disana-sini.
Perut yang lapar dan hawa dingin membuat anak-anak tak sabar untuk segera membuka bekalnya. Kali ini, tim membawa tiga kompor, satu berbahan parafin, satu kompor gas (kaleng) dan satunya lagi kompor ’kreatif’ berbahan batu bata yang dicelup minyak tanah. Mas Rizal dan Mas Irwan, mahasiswa UNDIP yang menjadi mentor Mentoring di beberapa sekolah, membantu anak-anak menyiapkan makan malam. Mie rebus, roti tawar, kopi-susu terasa hangat mengganjal perut dan bertambah hangat ditengah-tengah candaan khas anak-anak berebut makanan.
Di luar, kabut turun dan membuat suhu semakin dingin. Pak Doni memutuskan untuk memperpanjang istirahat dan merubah rencana untuk beristirahat lagi di desa Promasan. Pendakian akan dimulai dari sini dan langsung menuju Puncak. Dan itu artinya, kita punya waktu sekitar tiga jam untuk tidur sebab tengah malam kita akan memulai pendakian.
Sekitar tengah malam, satu persatu anak-anak dibangunkan. Nampaknya malam itu, Dita tidak bisa tidur, sebab saat kami,gurunya bangun, ternyata Dita malah sudah melek. Dilantai, Dhuha dan Didin nampak pulas tidur dalam satu sleeping bag. Ajaib, membangunkan mereka ternyata tidak sesulit yang dibayangkan. Semua bersegera bangun dan menata kembali barang masing-masing.
Sebelum berangkat, mas Rizal sempat mengabadikan Dita yang memperlihatkan sekantong plastik sampah yang diproduksi oleh kami dalam sepenggal malam itu. Menurut Dita, jika satu malam, satu tim pendakian saja, sudah menghasilkan sebegitu banyak sampah, maka jumlah sampah yang dihasilkan dalam hitungan bulan atau tahun, pasti lebih banyak lagi.
Tim melanjutkan perjalanannya, ditengah hawa dingin tengah malam. Perlahan, kami mulai memasuki vegetasi hutan pinus. Bintang-bintang yang semula terlihat juga mulai tertutup oleh daun-daun pepohonan. Praktis, penerangan kami malam itu hanya mengandalkan cahaya senter saja. Sementara bulan, malam itu baru perbani awal, sehingga cahayanya tidak cukup kuat untuk menjadi penerang bumi.
Menyusuri jalan setapak dengan carrier dipunggung dan ditengah kegelapan malam menciptakan pengalaman baru bagi anak-anak. Hari itu kami belajar mengatasi rasa takut terhadap gelap. Sejenak kami berhenti untuk mengatur nafas dan kemudian melanjutkannya kembali. Dan saat berhenti itulah, kami, gurunya memanfaatkan kesempatan itu untuk menyampaikan prinsip-prinsip kehidupan.
Bahwa, tidak perlu takut dengan gelap. Sebab manusia sudah terlalu akrab dengan kegelapan. Sembilan bulan di diperut ibu sudah cukup menjadi bukti bahwa kegelapan adalah sebuah rahmat. Karena gelaplah, terang menjadi lebih berharga. Karena gelap pula orang termotivasi untuk mengeksplorasi dan meneliti energi-energi untuk menghasilkan terang.
Kunang-kunang juga sesekali berseliweran di jalan pendakian. Kehadiran kunang-kunang itu mengingatkan kami kepada kemahakaryaan Allah SWT. Sebab 9 dari 10 energi kunang-kunang dirubah menjadi cahaya, hanya 1 yang tersisa menjadi energi panas. Sementara, cahaya buatan manusia (lampu), kebalikannya, 9 energi menjadi panas, dan cuma 1 yang menjadi cahaya.
Dua jam berjalan, tim tiba di sebuah pertigaan, di perkebunan kopi. Salak anjing menunjukkan ada aktivitas komunitas kehidupan disana. Namun karena masih sepertiga malam, satu-dua rumah yang ada masih dalam kondisi gelap, tanpa nyala sedikitpun. Pertigaan ini mengarah kepada dua tujuan yang berbeda. Dari petunjuk yang dipasang oleh sebuah kelompok pecinta alam, terlihat bahwa jalan ke kiri adalah menuju puncak sementara jika lurus menuju desa Prumasan. Tim memilih jalan ke kiri.
Tak lama, kami telah berada diantara rimbun dedaunan kebun teh. Dalam kegelapan nampak siluet Puncak Ungaran. Itu artinya tujuan sudah tak lagi jauh. Seperti mendapat tenaga baru, anak-anak bersemangat menyusuri jalan setapak khas lereng puncak. Dititik inilah jalan paling terjal atau kritis dan membutuhkan spirit besar dan kerjasama tim. Teriakan Allahu Akbar seringkali diteriakkan di sini untuk menambah semangat anak-anak ’menaklukan’ medan.
Sayup-sayup adzan subuh terdengar, langit juga mulai memerah. Tim sudah berada di bagian puncak tapi belum sampai dipuncak utama. Pendeknya waktu subuh membuat kami memutuskan untuk sholat subuh di lereng puncak, yang sebenarnya direncanakan di puncak utama. Selepas subuh kami manfaatkan sejenak untuk menikmati pemandangan khas ketinggian yang tidak mungkin didapatkan kecuali dengan mendaki gunung.
Satu jam kemudian, tiang bendera puncak utama telah terlihat. Tim sudah sampai dipuncak utama. Kerja keras yang membuahkan hasil. Semangat pantang menyerah telah terbayar hadiahnya. Anak-anak nampak gembira bisa berada di tempat yang paling tinggi se-Semarang itu, meski harus menggigil karena kemudian angin dan kabut menyerbu puncak.
Setelah membuat tenda darurat dari ponco, tim kemudian menyalakan kompor dan membuat sarapan pagi. Yang lain, foto sana foto sini. Seakan hendak lebih dekat berkenalan dengan alam puncak, Kholid, dhuha, nadha, dan siddiq membuka bajunya dan membiarkan kulit mereka diterpa hawa dingin…tapi nggak lama, soalnya abis itu mereka …bisa ditebak : kedinginan ! hehe…
Setelah sarapan, tim kemudian menjalankan misi utama yaitu Mountain Clean-Up alias Bersih gunung. Kantong plastik transparan yang telah disiapkan dari sekolah, dalam sekejap sudah dipenuhi sampah plastik. Dhuha nampak bersemangat, memungut plastik demi plastik sampah yang mengotori keindahan puncak Ungaran itu. Entah apa yang dipikirkan Dhuha, sebab bagi kami rekan dan gurunya, ini adalah pendakian terakhir bersama Dhuha. Sebab setelah ini, Dhuha akan pindah ke Jakarta mengikuti ayahnya yang dipindahtugaskan oleh kantornya.
Jam sembilan tepat, Pak Doni mengumpulkan seluruh anggota tim. Mengitari kepulan asap hasil bakaran sebagian sampah, tim membentuk lingkaran dan menyimak bait demi bait doa yang dipanjatkan Pak Doni. ”Ya Allah, yang menggenggam bumi dan seluruh alam semesta, yang menciptakan gunung dan lautan, yang menguasai kedalaman dan ketinggian, jika kemarin kami masih di sekolah alam dan pagi ini sudah berada di puncak Ungaran, itu karena izin-Mu semata. Betapa banyak pelajaran yang kau berikan kepada kami sepanjang perjalanan yang kau bentangkan di alam dan kehidupan, dan semoga itu membekas kepada kami, membawa hikmah positif bagi kami. Minimal bagi mulut dan tangan kami, agar tak lagi menciptakan kerusakan melainkan selalu berusaha membawa kebaikan”
Dari sekian banyak jalur pulang, tim kemudian memilih arah barat daya menuju Candi Gedongsongo. Di sisi ini, terdapat air panas dan belerang yang menunjukkan bahwa Gunung Ungaran masuk kategori gunung berapi. Hal yang sama juga terdapat di sisi lainnnya yaitu di hutan wisata Gonoharjo.
Perjalanan pulang melalui jalur Gedongsongo pada dasarnya terbagi menjadi dua vegetasi besar. Yaitu vegetasi hutan basah, yang ditandai dengan lembabnya udara di bawah pohon plus banyaknya lumut-lumut yang menempel di sepanjang pohon. Dua jam pertama, tim berada di daerah ini. Disini pula ditemui tanaman Begonia, tanaman merambat berdaun mirip daun talas-talasan, namun yang dimakan adalah batangnya bukan umbinya. Rasanya kecut-kecut asam seprti belimbing wuluh namun mengandung banyak air, sehingga bisa menjadi alternatif saat kita sudah kehabisan air mineral.
Satu jam terakhir adalah vegetasi ilalang. Jalan yang terus menurun membuat kaki harus sedikit-sedikit mengerem jika tak ingin terjatuh. Menurut anak-anak, walaupun cuma tiga jam, tapi waktu turun adalah yang paling melelahkan bagi mereka. Bandingkan dengan waktu naik yang mencapai enam jam namun mereka lalui dengan kuat.
Sesampai di Gedongsongo, tim istrirahat, bersih-besih sekalian sholat sebab sudah memasuki waktu dhuhur. Makan siang bersama-sama di salah satu warung tenda sambil bercengkerama dan mereview pendakian menjadi agendanya.
Salut untuk anak-anak, sejak berangkat hingga makan siang di Gedongsongo, tak terdengar dari mulut mereka sedikitpun keluhan atau pernyatan yang senada dengan itu. Kalau lelah itu pasti, sebab di bus pulang Bandungan-Semarang, mereka kebanyakan tertidur pulas. Tapi kenangan yang tertorehkan pastinya tak mudah dilupakan.
Sampai jumpa di ekspedisi berikutnya !
(Keterangan foto : atas (Dhuha –murid kls V–, di Puncak Gunung Ungaran)
Foto lain :
![]()
(Pagi di puncak Gunung Ungaran)
![]()
(Ibrohim–murid kls VII–, dengan hasil sampah
nonorganik saat Mountain Clean Up)





kapan pak doni acara untuk orang tuanya…..
biar bisa belajar kaya anak2nya….
sangat menyenangkan membaca tentang sekolah alam ini….rasanya saya terharu sekali, mencintai alam dan berusaha tidak mengotorinya ..indah sekali yah??
Kalau suatu saat nanti saya “berkunjung” ke kota tercinta Semarang, boleh tidak saya mampir ke sekolah ini?
terima kasih bu wieda…
posisinya ada di mana nich ?
dengan senang hati kita menerimanya…datang aja kapan-kapan..
senada dengan ibu wieda, saya sangat excited sekali melihat ada sekolah semacam ini di semarang dan ternyata orang tua serta lebih terpenting sekali, anak anak juga terlihat sangat menikmati. de sela sela “serangan” globalisasi yang semakin sulit untuk mengontrol akses informasi yang sering kebablasan hingga ke anak anak kita. semoga sekolah alam ar ridho selalu mendapat ridho dari Sang Pencipta sebagai usaha untuk menghargai alam ciptaanNya.
aku jadi inget saat aku berada di gedong songo!tapi sayang waktu itu perawatannya masih kurang! sampahnya berserakan, tembok-tembok pada ditulis ra nggenah. . . Mungkin dengan adanya sekolah alam ini bisa menjadikan tempat wisata ini menjadi tempat yang terindah bagi pengunjungnya!
indah nian ciptaan Sang Pencipta. Namun karena tangan2 jahil keindahan itu terusik. Prjuangan anak2 tsb. tuk melestarikan alam menjadi pemicu kta tuk melestarikan alam skitar. Ayo pemuda-pemudi jgan hnya bsa merusak, sadarkan diri kita, bangun, lestarikan
saya alumnus sma 8 dan stie stikubank semarang, sekarang saya bermukim si batam. waktu sma dan kuliah dulu saya bersama teman2 sering melakukan perjalanan ke gunung ungaran. ketika wujudnya muncul di internet saya menjadi ingat akan kenangan indah jaman dulu. terimakasih telah membangkitkan memori yang tak terlupakan ini.
sungguh saya sangat suprise mengetahui ada sekolah alam seperti ini di semarang yang notabene adalah tempat lahir saya. saya sangat salut dengan sekolah ini.maju terus!!
salam lestari
wah….. sebenarnya dunia akan kekayaan alam kita ini indah ya…. tapi, sekarang ada yang sudah tidak merawatnya lg dan ada juga yang masih menyayangi n mencintai keindahan alam ini…. kt harus b’terima kasih pd Tuhan Yang Maha Kusa dan Pencipta Alam ini…. Ayo kita lestarikan anugerah yang telah diberikan pd kit janganlah merusak wahai manusia!!!!!!!!!!
aku akui memang indah banget karena aku ga’ ada bosennya naik gunung ungaran ini……sampai2 ga’ bisa dihitung berapa kali aku naik gunung ungaran ini selain ga’ terlalu tinggi tempatnya juga ga’ kalah bagus dari gunung2 yang lain, gunung ungaran ini cocok untuk belajar mendakikarena ga’ terlalu tinggi. Soo…sekarang aku kerja di Jakarta jadi aku ga’ bisa mendaki gunung itu seperti dulu tapi kalau nanti aku pulang aku pasti ajak teman2ku naik gunung ungaran lagi do’ain aja yach………..???????????????????/
aku jadi teringat semasa kuliah di smg dulu.tiap 2 minggu sekali aku dan teman2 naik ke gunung ungaran.jadi teringat memori masa lalu….oh ya saya sangat salut ternyata ada sekolah alam di smg.trims untuk foto ungarannya.
asik banget di puncak gunung ungaran……pokoknya ungaran special deh
aku aslinya juga seneng naik gunung . dan untuk sementara ini gunung yang udah aku kunjungi gede.pangrango dan salak. tapi selama ini aku blum menyadari klu keindahan alam sangat berharga . karna selama ini aku selalu cuek dengan sampah yang ada di gunung…dan klu boleh tau kapan acara naik gunung dari sekolah ini mau di adakan lagi???? dan boleh gak saya ikut gabung???
heri hami…
waduh kapan ya….
woii…temen2….kapan lagi nih kita bersih2 gunung???
(silence)…
wah mas..belum ada jawaban tuh…
ntar deh kalo ada rencana, kita posting disini. oce??? met mencintai lingkungan…hehe…
lama ga mampir jadi cuper…..
oke deh pak doni
aku tunggu kabarnya .. sapa tau nanti pas ada acara saya gaka
ada halangan dan bisa ikut..
saya tunggu kabarnya……..
terima kasih sebelumnya …..
makasih ya pak doni
Salam pak Doni,
Saya seorang yang hampir pensiun (58thn) domisili di Jerman, bidang saya adalah Biotechnologie, rencananya awal tahun depan saya mau pulang dan menetap di Semarang dan mungkin ‘nyasar’ nya saya ke blog ini adalah jawaban Tuhan bagi saya dan keluarga, karena itu bagaimana caranya saya bisa bergabung dengan Sekolah Alam ini, saya bersedia mengajar tanpa minta imbalan materi, terima kasih dan saya tunggu jawabannya.
pak soebekti…subhanallah pak…
dan saya bingung menjawabnya…^_^
insyallah ilmunya pasti berguna…
nanti sy bicarakanke temen disini sekaligus juga yayasan ya pak…
terimakasih perhatiannya..
wah jadi ingat dan kangen juga pingin mendaki lagi di ungaran udah hampir 8 tahun gak pernah nginjak di pegunungan…..kapan saya ingin gabung dengan teman2 di semarang….udah rindu dg g.ungaran,merbabu, sindoro, sumbing dan lain2nyalah….
pak doni habis lebaran pendakian gn. ungaran di buka ga?
Hai, Salam Kenal
sekedar membagi Informasi tentang penyewaan tenda dan alat-alat camping, pembuatan dan penjualan tenda,
Berkemah, Camping, kemping, Even, Wisata Alam, Mabim, Outbound Training, Tenda Dome, Tenda Sarnafil atau Tenda Kerucut;
silakan hubungi kami di http://www.tendaku.net atau http://www.mrcamp.net
email : tendakubandung@yahoo.com
thx..