jump to navigation

Batik : Menjaga Seni Budaya Lokal Januari 1, 2007

Posted by sekolahalamarridho in Cara Belajar.
trackback

Membatik

“Batik, pada mulanya adalah pakaian yang hanya boleh dikenakan di kalangan para raja-raja dan keluarga keraton Jawa. Sekarang, batik dapat dikenakan oleh siapa saja. Jika dulu batik hanya dapat dihasilkan dengan menulis, yang disebut dengan batik tulis, maka sekarang banyak beredar dipasaran batik cap dan printing. Nampak serupa, namun keduanya memiliki kualitas, cita rasa, dan harga yang jauh berbeda. Dan saya senang,melihat antusiasme anak-anak Sekolah Alam, mengingat bahwa para penggiat batik sekarang ini relatif adalah orang-orang tua” ujar PAk Heno membuka Sessi Perdana Lifeskill Batik di Kelas 7.

Yap, Sekolah Alam beruntung dapat menemukan sosok seperti Pak Heno dan istrinya Bu HEno, beliau berdua adalah sosok yang telah bertekad untuk memajukan batik tulis di Semarang. Dipercaya mengelola Kampoeng BAtik di Jagalan, Semarang oleh Dekranasda (Dewan Kerajinan NAsional Daerah), Pak Heno selain di Sekolah Alam juga melatih anak-anak sekolah di Al-Azhar, dengan tujuan yang sama,  agar kita lebih menghargai batik sejak usia dini.

Kedua sosok itu adalah guru lifeskill baru bagi anak-anak kelas 7. Setiap sabtu pagi mereka memulai aktivitasnya, menorehkan canthing ke dalam wajan yang berisi malam panas ke atas desain batik yang mereka buat sendiri. Jika ini berlangsung kontinyu, kita berharap selain penjagaan terhadap seni budaya lokal, mereka juga memiliki satu lagi bekal hidup yang dapat mereka manfaatkan kelak di kemudian hari.

Foto diatas adalah saat Bu Heno memperagakan cara menorehkan canthing yang benar di atas kain, disaksikan oleh Eri Miasari, siswa kelas 7.

Komentar»

1. esti - Maret 13, 2007

menyenangkan sekali dapat berlatih membatik untuk melestarikan kebudayaan lokal di Indonesia ini. semoga saja sekolah Ar-Ridho tetap memberikan yang terbaik kepada para penerus bangsa ini.

2. sekolahalamarridho - April 20, 2007

thanks doanya ya…
btw, batik tulis memang butuh keuletan tinggi dalam membuatnya, ketimbang yang cap atau sablon…, yang menarik adalah, orang asing justru lebih menyukai yang tulis. menurut mereka lebih hand made atau privat… jarang ada duanya… harga nggak jadi kendala…beda ama kita ya…yang penting murah…
tapi baik batik tulis, cap , sablon , printing, ato dll…sama-sama menjaga batik sebagai khasanah budaya bangsa…
doain kita bisa istiqomah di sini…

3. ardi - Mei 8, 2008

apakah skrg msih ada bljr membatik di ArRidho?

4. sekolahalamarridho - Mei 10, 2008

sudah tidak pak, pengajarnya pindah ke jakarta. tapi kita sesekali masih membatik…