jump to navigation

QURBAN 1430 H: EVALUASI DAN REKOMENDASI Desember 12, 2009

Posted by sekolahalamarridho in Moment.
4 comments

disembelih Qurbannya
Pagi yang cerah untuk jiwa yang cerah. Ada nuansa yang sedikit berbeda pagi Senin (30/11) lalu itu. Sebab, beberapa kambing sibuk mengembik di sebuah sudut di sekolah. Ya, pagi itu, Perayaan Idul Adha 1430 H sedang digelar di Sekolah Alam Ar-Ridho.

Di hari tasyrik paling akhir itu, kelas kecil (PAUD, TK, Kelas 1,2,3 SD) diliburkan, sementara kakak kelasnya yang besar (kelas 4,5,6, dan SMP) masuk sekolah. Kehadiran murid-murid di sekolah, khusus untuk melibatkan diri dalam kegiatan Qurban. Hari itu, murid dan juga guru, akan mempelajari banyak hal dari Qurban.

Taujih Qurban
Pak Tasropi kemudian meminta murid-murid berkumpul. Sebab, taujih Qurban akan segera dimulai. Ketupat (Ketua Panitia) Qurban, Pak Doni memimpin taujih. Selain mengingatkan tentang latar historis perayan idul Adha, khususnya tentang ketinggian keimanan nabi Ibrahim AS, Taujih juga diisi dengan beragam hal yang bisa dipelajari dari Qurban. (Terlampir dalam artikel “Belajar Banyak Hal dari Qurban)

Di moment ini, juga diumumkan 2 kategori Award Qurban 1430 H, yaitu Kelas dan Siswa dengan jumlah tabungan Qurban terbanyak. Untuk kategori Kelas diraih oleh Kelas 4A dengan jumlah tabungan sebesar Rp 705.100,00. Sementara untuk Award Siswa jatuh pada Aulia Rahma dari Kelas 2A yang telah gigih menabung hingga total berjumlah Rp 170.000,00. Penyerahan Award dilakukan oleh Bu Mia, selaku Direktur Sekolah Alam. (Terlampir : desain Award/Sertifikat Qurban)

Satu persatu, Duta Qurban juga dipanggil kedepan untuk diperkenalkan dengan para siswa. Duta Qurban adalah dua orang utusan dari masing-masing kelas sebagai wakil sekolah. Mereka inilah yang nantinya akan mendistribusikan daging Qurban kepada mereka yang berhak menerimanya.

Rekomendasi 1 : Sound System
Acara taujih Qurban sempat terhambat oleh Sound System yang macet, khususnya Mic yang rusak. Kendala teratasi setelah mencari pinjaman Mic di Pesantren Ar-Ridho di Rejosari. Maka, rekomendasi ke-1 ini adalah : sekolah membeli Mic pengeras suara berkualitas bagus. Dalam skala yang lebih besar, sekolah bisa membeli dan menyusun seperangkat Sound System yang dipasang sedemikian rupa, sehingga ketika ingin menggunakan tinggal pencet satu tombol on. Simple dan bisa bersifat menyeluruh (bisa terdengar diseluruh penjuru sekolah bahkan hingga ke ruang-ruang kelas)

Qurban kali ini, sekolah menyembelih 8 kambing plus 4 kambing dari PKPU. Lima kambing diperoleh dari tabungan Qurban yang mencapai hampir 5 juta rupiah (Terlampir : Tabel Tabungan Qurban per Kelas) dan 3 kambing lainnya dari pequrban; Rahmawati (kelas 7), Syaima (kelas 9) dan Aqila (kelas 1C).

Empat kambing diperoleh dari PKPU (Pos Keadilan Peduli Umat). Sebagaimana amanah dari PKPU, kambing telah disembelih dan dibagikan sehari sebelumnya, pada Ahad (29/11). Daerah sebaran kambing PKPU adalah 2 kambing untuk dukuh Sambung (via Pak Minto, dkk) dan 2 kambing untuk dukuh Kebontaman (Pak Dikin dkk). Keduanya berada di desa Rowosari.

Rekomendasi 2 : Menabung Sejak Awal di semua Unit
Pada dasarnya, target Qurban tahun ini adalah berwujud sapi. Namun dana yang terkumpul pada hari yang telah ditentukan tidak mencukupi. Meskipun bila dikonversi, pencapaian 8 kambing sebenarnya sama dengan 1 sapi.

Di awal, panitia telah merencanakan beberapa langkah. Diantaranya 1). Gerakan Tabung Qurban. Dan 2) Pendekatan pada Shohibul Qurban (Qurban personal), dan 3) proposal ke LAZ atau Pemkot.

Al-hasil, dalam 3 pekan waktu yang tersedia dengan himbauan menabung minimal 1000 rupiah perhari per anak, pada hari terakhir (23/11) terkumpul Rp 3.630.000,00, plus 1 kambing dari Aqila (1C). Rapat besar panitia pada hari itu kemudian memutuskan untuk berqurban dalam wujud kambing. Ternyata 3 hari kemudian, di hari terakhir masuk sekolah yaitu Kamis (26/11) terjadi perkembangan yang signifikan terutama dari unit TK dan SMP. Tabungan Qurban menjadi Rp 4.839.000,00 plus 3 ekor kambing.

Sehingga, sebenarnya, bila waktu yang tersedia lebih lama, unit-unit lebih responsif sedari awal, dan pendekatan pada shohibul Qurban lebih masif, maka Qurban dalam wujud sapi menjadi mungkin.
Maka, Rekomendasi ke-2 dari panitia adalah : Tetap dengan format Tabung Qurban dan bilangan yang sama (minimal 1000 rupiah) namun dengan waktu yang lebih panjang, 1-2 bulan. Gerakan menabung setiap hari ini, dinilai lebih baik daripada mewajibkan murid menyetor uang dalam jumlah tertentu. Dengan menabung, siswa juga belajar untuk menjadi pribadi yang jujur, menjalankan amanah berupa dititipi uang tabungan oleh orang tua. Dengan sedikit catatan, setiap unit (PAUD, TK, SD, SMP) berkolaborasi lebih solid.

Secara matematis, kita dapat menghitung. Bila tahun depan, katakanlah ada 500 murid yang menabung dengan jumlah tabungan rata-rata 20.000, maka akan terkumpul dana Qurban sebesar 10 juta rupiah. Itu cukup untuk membeli sapi ukuran sedang.

PENYEMBELIHAN
Kira-kira pukul 08.00 WIB, prosesi penyembelihan dimulai. Dipimpin oleh Pak Rusmanto sebagai tukang jagal, kambing-kambing Qurban satu demi satu menumpahkan darahnya diantara lafadz basmalah dan takbir. Murid-murid pun antusias menyaksikannnya dengan beragam ekspresi. Bercampur antara kengerian dan keingintahuan. ^_^
disembelih

Pengulitan dilakukan secara mandiri oleh guru-guru SAA dibantu oleh bapak-bapak tukang yang kebetulan sedang berada di sekolah membangun saung. Berbagai alternatif teknik pengulitan ditunjukkan. Ada yang kepala dibawah, ada juga dengan kepalanya diatas.
pengulitan

Semua berlomba dengan waktu, sebab Dhuhur ditargetkan semua sudah usai berikut kegiatan distribusinya.

Di sudut lain, tiga orang tampak ‘khusyuk’ dengan kegiatan cuci-cucinya. Ya, dibawah komando Pak Ropi, jeroan 8 kambing itu dibersihkan. Sebelumnya, Pak Fauzun (yayasan) men-training kilat bagaimana cara efektif membersihkan usus. Tiga lubang di tanah menampung isi perut dan kotoran makhluk memamah biak itu. Bau khas organ dalam rupanya tak membuat Pak Ropi, Huda (kelas 9) dan Mufid (tukang) jijik dan undur diri. Mereka tetap setia hingga jeroan terakhir tercuci bersih.
cuci jeroan

Sementara itu, di bawah tratak, aktivitas khas Qurban juga nampak. Ibu dan bapak guru, dibawah komando Pak Agus dan Pak Alim, berikut beberapa murid bersinergi mencacah kambing yang telah dikuliti menjadi potongan-potongan kecil.
pencacahan

Sebagian bahkan menyayatnya menjadi bagian lebih kecil lagi. Usut punya usut, itu adalah daging yang rencananya akan digunakan untuk bakar sate bersama. Sebagaimana hari raya, yang merupakan hari bergembira terutama bagi anak-anak, kegiatan membakar sate adalah kegiatan yang ditunggu-tunggu oleh anak-anak.
nyate

Disela pencacahan, giliran Bu Isti beraksi. Ibu guru berlatar pendidikan Biologi itu kemudian menjelaskan organ dalam kambing berikut fungsinya kepada murid-murid. Menurut beliau, kambing memiliki sistem pencernaan khusus. Perutnya (rumen) lebih dari satu dan memiliki fungsi yang berbeda-beda. Nah, siapa yang masih ingat, apa fungsi ginjal? ^_^
penejelasan sains

Proses pencacahan berlangsung taktis dan efektif. Salah satu sebabnya adalah dukungan peralatan dari panitia Qurban Masjid Ar-Ridho yang dipinjamkan kepada panitia. Kapak, Telenan, Karpet, dan keranjang kayu adalah sebagian alat yang mendukung kerja pencacahan itu, selain pisau dan karpet yang dibeli oleh panitia sendiri.
Pencacahan2

Rekomendasi 3 : Rawat Aset Panitia tahun ini
Pada poin ini, panitia merekomendasikan : untuk menjaga hubungan silahturahim yang baik dengan ta’mir dan keluarga besar masjid Ar-Ridho. Hubungan yang harmonis ini akan memberi efek saling menguntungkan antara sekolah dan masjid.

Kemudian, panitia mewariskan beberapa perangkat atau aset yang dapat digunakan oleh panitia Qurban tahun depan. Beberapa peralatan itu diantaranya adalah : 6 bilah pisau, cutter, karpet alas daging sepanjang 6 meter, dan bendera logo Sekolah Alam Ar-Ridho berukuran 1×1 meter.

DISTRIBUSI
Dari 8 kambing Qurban, setelah dikurangi daging untuk sate dan sayur makan siang bersama, ternyata didapatkan kurang lebih 110 bungkus daging. Masing-masing bungkus terdiri dari daging, jeroan, dan tulang dengan total bobot 1 kg.

Jika jumlah bungkus telah ditemukan, ini berarti saatnya seksi distribusi dan para Duta Qurban untuk unjuk aksi.

Briefing pun digelar. Murid-murid yang menjadi Duta berembug untuk berbagi tugas. Kelompok terbagi menjadi 2 besar. Kelompok pertama, bertugas membagi Qurban untuk tetangga dan lingkungan di sekitar sekolah. Sementara kelompok kedua, beranjak lebih jauh. Berarmadakan motor, mereka akan mengunjungi dukuh Teseh dan membagikan daging Qurban disana. Pak Rizki mengawal kelompok pertama, dan Bu Yayuk di kelompok kedua.
briefing Duta Qurban

Setelah pembagian tugas, bergegas masing-masing kelompok menyiapkan bungkusan dagingnya. Waktu menunjukkan pukul 11.15 WIB.
persiapan pembagian

Menyenangkan dan mengharukan, saat melihat para murid-murid Duta Qurban menyerahkan bungkusan daging Qurban. Banyak hikmah yang bisa dipetik, terutama perihal betapa indahnya bisa menjadi tangan-tangan di atas.
distribusi Qurban

Semoga, Qurban tahun depan bisa lebih baik lagi. Bisa melibatkan murid-murid kelas kecil yang kali ini masih diliburkan. Dan banyak hal lain yang belum bisa terlaksana di kepanitiaan tahun 1430 ini.

Kepada segenap panitia, orang tua, murid, shohibulqurban, dan segenap pihak yang telah membantu kesuksesan Qurban 1430 H ini, kami mengahturkan terima kasih. Jazakumullahu khoiron katsiro.

(Thx untuk Tim Dok. : Pak Zaini, Pak Arifin, dan Bu Wawi,d untuk foto-foto berceritanya)

notes : Lampiran-lampirannya menyusul ya… ^_^

Selamanya Guru… Juni 24, 2009

Posted by sekolahalamarridho in Parents Corner.
6 comments

Brothers and sister,
akhi wal ukhti…
pak duru dan bu guru…

ane dan segenap temen-temen guru di sini mendoakan yang terbaik buat antum semuanya…kesuksesan dimanapun antum berada..barokallahu…
murid, dan kami semua bangga dan senantiasa mengenang antum semua sebagai guru yang inspiring, dan penuh dedikasi kepada pendidikan dan anak-anak…

kita akan bertemu lagi insyallah , dalam kesempatan yang lebih baik, dan diridhoi oleh Allah. Jikalau ada waktu, mainlah kemari tengok kita-kita disini..

1. Bu “Rinai Gerimis” Agustin TA : SMP
2. Mr Restu “English Teacher” : SMP
3. Bu Mobinta “The Master” : SD 3
4. Bu Kasmi “Anak Laut” : SD 4
5. Bu Tri Hartini “New Bride”: SD 6
6. Bu Mutiatun “The Writer” : SD 4
7. Pak Yudi “The Headmaster” : SD
(update 28/06/09)
8. PAk Solichin ” Guru Outbound & Olahraga” = SD-SMP

Berita Duka Mei 7, 2009

Posted by sekolahalamarridho in Teachers Corner.
2 comments

Innalillahi wa innailaihi roji’un…
Telah dipanggil ke rahmatullah…,
Rais Fardin Rehma Fikri, putra dari Bu Ngatmini dan Pak Yaumus Sururi, yang lahir pada Selasa (5/5/09) dan wafat pada Kamis (7/5/09). Jenazahnya telah dikebumikan pada hari ini, Kamis (7/5/09) bada duhur di pemakaman Rejosari-Meteseh.

Semoga ayah dan bunda juga segenap kerabat di anugerahi kesabaran dan kekuatan. Semoga kita semua juga bisa mengambil hikmah dan pelajaran dari ketetapan Allah ini.

Semangat dan Bangkit, Bu Mini…!
The Life Must Go On…!

Selamat Datang Keluarga Baru Mei 6, 2009

Posted by sekolahalamarridho in Teachers Corner.
1 comment so far

Keluarga besar Sekolah Alam Ar-Ridho mengucapkan Barokallahu atas kelahiran putra-putrinya dari bapak/ibu guru :

1. Pak Sumari dan Bu Musyarofah (putra kedua)
2. Bu Ngatmini dan Pak Masruri (Putra pertama)
3. Bu Silviani Hanum (putra pertama)

semoga putra/putrinya kelak menjadi jundi-jundi Allah, menjadi anak yang soleh dan dibanggakan oleh keluarganya, lingkungannya, negeranya, dan agamanya. Amin…

(note : untuk bu mini dan mus, semoga cepat pulih, setelah proses Caesar ya…mohon doanya kerabat sekalian wa bil khusus untuk putranya bu mini, yang saat posting ini ditulis masih dirawat di ICU RS. Hermina)

Liputan Aksi Hari Bumi 2009 April 29, 2009

Posted by sekolahalamarridho in Moment.
2 comments
Aksi Hari Bumi

Aksi Hari Bumi


Hari ini udara begitu panas sehingga binatang-binatang, tumbuhan-tumbuhan pun mau mengungsi. Tapi ke mana? Mereka lalu menyalahkan manusia. Manusia seperti biasa ‘lempar batu, cuci tangan’ ini peribahasa unik yang sengaja dibuat untuk ungkapkan persaan hati ini, artinya setelah melakukan sesuatu tidak hanya ‘menyembunyikan tangan’ tapi juga ‘cuci tangan’ seolah tak terlibat.

Masyarakat negara berkembang menyalahkan masyarakat negara maju dengan industrinya, teknologinya yang menghasilkan asap hitam di azzura. Sementara masyarakat negara maju menyalahkan masyarakat negara berkembang yang menebangi hutan sembarangan, menjadikannya kayu bakar, membuat azzura jadi abu-abu. Sehingga manusia negara maju yang berduit memberikan uang kepada tumbuhan dan binatang, pikirnya dengan uang tumbuhan dan binatang bisa ‘diam’. Menyuap kok ke binatang dan tumbuhan, ealah ….menyalahi kodrat hukum KKN (korupsi kolusi dan nepotisme). Terang saja tumbuhan dan binatang menolak mentah-mentah.

Ozon yang sudah tak jernih ternyata masih berpikir jernih, ia berkata kepada manusia, tumbuhan, dan binatang “mari kita satukan hati untuk bumi tercinta”

Demikian isi teaterikal d’art (The Ar Ridho Teater) yang ditampilkan oleh siswa SMP Alam Ar Ridho ketika hari bumi kemarin (Rabu, 22 April 2009) dengan lakon “Aku, Kau, dan Bumi Kita”. Akhirnya latihan yang cukup banyak menyita pikiran, tenaga, dan es teh (latihannya sambil habiskan es teh milik bu Jan, bu kantin) terlaksana juga.

Meski sempat gugup juga si dalang alias pendamping d’art ustadzah Ata sebab jadwal kampanye eh aksi Hari Bumi yang seyogyanya jam 07.30 di air muncrat molor jadi jam 09.00. Untungnya pak Don yang jadi humas aksi, cerdik. Biasa menangani aksi sejak zaman mahasiswa, jadi beliau undang teman-teman pers jam 09.00. Lega dan plong..ditambah semangat anak-anak yang membuat haru-haru agak haus gimana gitu. Lha wong udaranya panas..panas..panas…(ada nadanya loh, seperti nada lagunya mas GIGI).

Flash back ke adegan awal aksi Hari Bumi, dengan dikomandoni bu Binta yang heboh sambil nyanyi ‘selamatkan selamatkan bumi, selamatkan bumi sekarang juga’ diiringi grup musik The Blaster kelas IV B (yang belang, emang enak dimakan…ups) semangat seratusan anak berkobar. “Selamatkan bumiku, bumimu, bumi kita semua”.

Rombongan mengambil awalan di depan PKMU Undip lalu jalan kaki sampai air mancur alias air muncrat. Setelah menyanyikan mars Sekolah Alam Ar Ridho yang keren..cie. aksi teaterikal akan segera dimulai. Rupanya perasan ustadzah Ata tidak enak, ternyata Soni yang berperan jadi masyarakat negara maju lupa bawa uang palsunya dalam adegan melemparkan uang. Soni bilang ditipkan ke Reza, Reza ke Wilda, Wilda ke Ali. Setelah dilempar-lempar ke banyak orang (kasihan tuh ustadzah Ata) ternyata uang dititipkan ke pembawa spanduk yang berada di belakang Soni (gregetan banget ).

By the way di Semarang emang tidak ada buss way ..teaterikal sederhana berjalan dengan baik lalu dilanjutkan dengan pembacaan puisi dari anak-anak SD kelas IV dan V yang tak kalah keren, akhirnya ditutup dengan lagu dari Fadil kelas V yang tanpa skenario. The Blaster yang jadi backing sound aksi, asli bengong dan menatap wajah ustadzah Ata yang bingung ‘Ustadzah ini musiknya bagaimana?” ustadzah Ata hanya tersenyum tapa rasa, ‘hadapi dengan senyuman’ bisik hatinya. Wisang yang pegang bass langsung tanggap, ia main gebuk ya walaupun agak aneh tapi yang pasti tetap heboh..

Setelah aksi di air mancrut eh air muncrat rombongan pulang ke depan gedung PKMU Undip. Sambil operasi semut. Itu tuh operasi yang biasa dilakukan di sekolah. operasi sampah secara rombongan.alhamdulillah sampai juga di depan gedung PKMU Undip. Makanan pun dibagikan tapi tiba-tiba bu Isti menemui ustdzah Ata..”Bu kardus rotinya yang satu mana?’ ustadzah Ata lagi-lagi bingung (bagaimana tidak bingung, pada awalnya jadi korlap, lalu jadi pendamping teater, trus sekarang jadi seksi konsumsi…maksudnya?

”Di pak Zein kan Bu, tadi yang ambil kudapan pak Zein.”
Lalu mereka menemui pak Zein yang sedang duduk, termenung di depan tempat parkir.
“Pak kardus roti yang satu mana?“ tanya bu Isti dan ustadzah Ata koor tanpa dikomnado.
“Hanya ambil satu.”
“Yang satu?” bu Isti hampir histeris di dalam hati.
Pak Zein tidak menjawab hanya menggendikan bahu,
Oalah…ketinggalan
“Bu Ata,…” bu Isti memandang ustadzah Ata penuh harap.
“Ok ana ambil.”

Baiklah…ceritanya sampai di sini. Bila di awal lagu menggebu-nggebu maka pulangnya lagu keroncongan di perut karena laapar banget kami pulang. Semoga persembahan kecil ini dapat mengambil menggunggah hati ‘manusia yang masih mau menghirup udara bersih, yang masih mau minum air yang tak tercemar, yang masih mau menikmati rindangnya pohon” untuk selamatkan bumi kita.
(written by : ata saja)

Liputan Media :
1. Suara Merdeka
2. Republika
3. Kompas Jateng
4. Antara
5. VHR